Minggu, 11 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

TikTok Picu Kebutuhan Kulit Meningkat Akibat Perawatan Ilegal

Studi di EADV 2026 mengungkap 36% pasien kulit mengalami perburukan karena ikuti tren kecantikan dari TikTok tanpa bimbingan medis.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 11 Oktober 2026, 15.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
TikTok Picu Kebutuhan Kulit Meningkat Akibat Perawatan Ilegal📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Sebuah penelitian observasional yang disajikan dalam konferensi EADV 2026 mengungkapkan bahwa tren perawatan kulit yang viral di TikTok berdampak negatif pada kesehatan kulit sebagian besar penggunanya. Dari 94 pasien yang diteliti selama periode 12 bulan, sebanyak 36 persen memiliki riwayat jerawat, sedangkan 18 persen mengidap rosacea atau peradangan kronis. Sisanya, 35 persen, tidak memiliki sejarah gangguan kulit sebelumnya, menunjukkan bahwa paparan terhadap produk viral bisa memicu masalah baru.

Masalah kulit yang paling sering muncul antara lain dermatitis kontak iritan (42%), perburukan jerawat (30%), kekambuhan rosacea (12%), hiperpigmentasi pasca-peradangan (10%), dan luka bakar kimia (7%). Faktor utama yang menyebabkan gangguan tersebut adalah penggunaan bahan aktif tanpa pemahaman yang cukup. Hampir 35% kasus disebabkan oleh eksfoliasi kimia berbasis asam AHA atau BHA, sementara retinoid tanpa resep menyebabkan peradangan pada 27% pasien. Serum vitamin C tinggi berkontribusi pada 14% kasus, dan niacinamide terkait dengan 11% gangguan.

Data menunjukkan bahwa 63% pasien menggunakan lebih dari tiga bahan aktif secara bersamaan, sementara 14% menerapkan rutinitas perawatan kompleks yang menggabungkan berbagai zat aktif. Kebanyakan dari mereka—63%—mengaku mendapatkan inspirasi perawatan dari media sosial, khususnya TikTok. Hal ini menunjukkan bahwa tren viral tanpa penilaian medis dapat mengganggu keseimbangan alami kulit dan memperparah kondisi yang sudah ada.

Meskipun studi ini masih berskala kecil, temuan ini menjadi peringatan penting terhadap praktik perawatan kulit yang tidak terkendali. Masyarakat diimbau untuk tidak langsung mengadopsi tren kecantikan tanpa memahami karakteristik kulit dan potensi reaksi. Jika ragu, konsultasi dengan dokter kulit tetap menjadi langkah paling aman sebelum memulai rutinitas baru.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya