Minggu, 11 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pemprov Jateng Dorong Penggunaan Bahasa Jawa Harian

Pemprov Jateng memperkuat pelestarian bahasa Jawa melalui kebijakan wajib berbahasa Jawa setiap Kamis dan berbagai program berjenjang di sekolah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 11 Oktober 2026, 15.49 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Pemprov Jateng Dorong Penggunaan Bahasa Jawa Harian📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat upaya pelestarian bahasa Jawa dengan menerapkan kebijakan penggunaan bahasa daerah secara rutin dalam aktivitas sehari-hari, khususnya di lingkungan pemerintahan. Kebijakan tersebut ditegaskan melalui Peraturan Gubernur yang menetapkan hari Kamis sebagai hari wajib berbahasa Jawa bagi aparatur sipil negara. Tujuan utamanya bukan hanya melestarikan bahasa, tetapi juga menanamkan nilai tata krama dan karakter yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menekankan bahwa bahasa Jawa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan sarana pembentuk akhlak dan identitas budaya. Ia menilai bahwa kebiasaan berbahasa Jawa secara konsisten di berbagai sektor akan menciptakan kebiasaan berpikir dan bersikap yang menghargai sesama, tercermin dari pola tutur yang sopan dan menghormati. Menurutnya, nilai-nilai ini akan menjadi warisan alamiah jika ditanamkan sejak dini dan dipraktikkan secara konsisten di keluarga, sekolah, dan instansi pemerintah.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, mendukung langkah tersebut dengan menegaskan bahwa pembelajaran bahasa daerah harus diikuti praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyoroti kompleksitas bahasa Jawa yang memiliki tingkatan tutur sebagai bentuk penghormatan dan pengenalan diri dalam interaksi sosial. Menurutnya, bahasa daerah adalah wadah nilai luhur yang perlu dijaga agar tidak punah di tengah globalisasi dan modernisasi.

Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026, yang berlangsung di Balai Bahasa Jawa Tengah, Kabupaten Semarang, menjadi momentum penting dalam rangkaian program revitalisasi bahasa daerah. Acara yang diikuti 490 siswa SD dan SMP dari 35 kabupaten/kota ini menyajikan berbagai lomba seperti aksara Jawa, geguritan, cerita rakyat, pidato, dan nembang macapat. Kegiatan ini dirancang bukan untuk mencari juara, tetapi untuk membangun rasa cinta dan kebanggaan terhadap bahasa ibu.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, menjelaskan bahwa FTBI merupakan puncak dari serangkaian program yang dimulai dari tingkat kabupaten dan kota. Program ini mencakup pelatihan guru, diskusi, pengimbasan, serta pemantauan secara berkelanjutan. Tujuannya adalah menciptakan budaya berbahasa daerah yang kokoh, terutama di lingkungan pendidikan, di mana pembelajaran dengan bahasa ibu pada tahap awal dianggap mampu meningkatkan pemahaman dan daya serap siswa.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya