Selasa, 15 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Trump dan Huang Dorong Percepatan AI Tanpa Regulasi Berlebihan

Presiden AS Donald Trump dan CEO Nvidia, Jensen Huang, menegaskan bahwa kekhawatiran terhadap kecerdasan buatan adalah hoaks, sekaligus menekankan potensi ekonomi besar dari pusat data dan industri AI.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 15 September 2026, 22.38 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 2x dibuka
Trump dan Huang Dorong Percepatan AI Tanpa Regulasi Berlebihan📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada acara All-In Summit di Los Angeles, Donald Trump melakukan interupsi langsung terhadap wawancara CEO Nvidia, Jensen Huang, saat sedang membahas perkembangan kecerdasan buatan. Sesi telepon mendadak tersebut menjadi perhatian publik karena menyoroti sikap tegas Trump terhadap kritik terhadap AI. Ia menyatakan bahwa narasi tentang AI sebagai ancaman global adalah konspirasi yang tidak berdasar, menekankan bahwa pusat data bukan ancaman, melainkan aset strategis yang akan membawa kekayaan bagi negara dalam dua dekade ke depan.

Trump menekankan bahwa industri AI bukanlah ancaman bagi manusia, melainkan pendorong pertumbuhan ekonomi. Ia menilai bahwa kekhawatiran terhadap teknologi ini justru menyerupai prediksi-prediksi masa lalu yang tidak terbukti, seperti ancaman kiamat akibat perubahan iklim. Menurutnya, industri ini mampu menghasilkan keuntungan hingga 20 triliun dolar AS per tahun, dan pemerintah harus terus mendukungnya tanpa memberlakukan pembatasan berlebihan.

Jensen Huang mendukung pernyataan Trump, menegaskan bahwa AI akan memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk perusahaan, sektor publik, dan wilayah administratif di seluruh AS. Ia menilai bahwa kekhawatiran yang disampaikan oleh sejumlah tokoh teknologi, termasuk mantan peneliti Anthropic Jacob Coxon dan CEO Anthropic Dario Amodei, tidak didukung data ilmiah. Huang mencontohkan bahwa prediksi-prediksi sebelumnya tentang penggantian pekerjaan oleh AI tidak terbukti terjadi secara massal hingga kini.

Wakil Presiden AS, JD Vance, juga ikut menyampaikan keheranan terhadap sikap perusahaan teknologi besar yang meminta regulasi ketat dari pemerintah. Ia menilai bahwa meski risiko nyata dari AI memang perlu diwaspadai, manfaatnya jauh lebih besar. Ia menyebut aneh melihat perusahaan yang paling depan dalam inovasi justru meminta pembatasan dari negara. Pendekatan Gedung Putih ini berbeda dengan persepsi masyarakat yang semakin khawatir terhadap dampak pekerjaan dan lingkungan dari ekspansi pusat data.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Tonton Videonya

Berita Terkait

Berita Lainnya