Cadangan Batu Bara PTBA Masih Terbatas, Posisi Produksi di Papan Tengah
Dirut PTBA mengungkapkan cadangan perusahaan hanya 2,88 miliar ton, berada di posisi kelima produksi nasional, serta terus melampaui kewajiban DMO hingga lebih dari 54%.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 15 September 2026, 22.37 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengungkapkan keterbatasan cadangan batu bara yang dimilikinya dalam forum rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI. Direktur Utama Bambang Ismawan menyatakan bahwa total cadangan batu bara perusahaan saat ini mencapai 2,88 miliar ton, sementara sumber daya mencapai 5,71 miliar ton. Angka tersebut dinilai relatif kecil jika dibandingkan dengan cadangan nasional yang mencapai sekitar 97,96 miliar ton.
Dari sisi porsi terhadap total sumber daya nasional, PTBA hanya menyumbang sekitar 5,83%, sementara cadangan nasional yang dimiliki perusahaan mencapai sekitar 9,01%. Bambang menyebut kondisi ini cukup mengkhawatirkan, terlebih mengingat PTBA merupakan satu-satunya perusahaan batu bara milik negara yang beroperasi secara nasional. Keterbatasan cadangan berdampak langsung pada kemampuan ekspansi produksi dalam jangka panjang.
Dalam hal produksi, PTBA saat ini menempati posisi kelima di antara perusahaan batu bara terbesar di Indonesia. Urutan tersebut ditempati oleh PT Bumi Resources, Adaro Indonesia, Bayan Group, Sinar Mas Group, dan PTBA sebagai penghuni posisi terakhir dari lima perusahaan besar tersebut. Posisi ini menunjukkan tantangan dalam mempertahankan dominasi pasar meskipun memiliki status sebagai perusahaan milik negara.
Bambang juga menyoroti kinerja perusahaan dalam melaksanakan kewajiban penjualan batu bara untuk kebutuhan domestik (DMO). Meskipun aturan menetapkan batas minimal 25% dari total produksi, PTBA selalu melampaui angka tersebut. Pada periode 2021 hingga 2025, rata-rata realisasi DMO PTBA mencapai lebih dari 54%, jauh di atas ambang batas. Ia menekankan bahwa hal ini berdampak pada penurunan laba, karena alokasi yang lebih besar untuk pasar domestik mengurangi margin keuntungan dari ekspor.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Lima Tantangan Strategis Sektor Tambang di Depan Mata
MIND ID soroti tantangan kompleks dalam pengelolaan mineral dan batu bara, sekaligus tekankan pentingnya integrasi nilai tambah dan keberlanjutan.
15 September 2026

Smelter Baru Freeport Kembali Beroperasi Setelah Longsor
Smelter kedua PT Freeport Indonesia di Gresik telah kembali beroperasi sejak September 2026, setelah pasokan konsentrat pulih pasca insiden longsor di tambang bawah tanah.
15 September 2026

Temuan Mineral Langka Raksasa di Madinah Diumumkan di IAEA
Arab Saudi mengumumkan temuan 110 juta ton bijih tanah jarang dan uranium di Madinah, bernilai hingga US$100 miliar, dalam sidang IAEA.
15 September 2026

Tambang Nikel Harus Diawasi Ketat, Hutan Lindung Jangan Jadi Korban
GERAK Sultra menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap aktivitas pertambangan nikel untuk melindungi hutan lindung dan daerah aliran sungai dari kerusakan ekosistem.
15 September 2026
Berita Lainnya

Chery Perkenalkan Robot Keamanan dan Perawat di IFA 2026
Selasa, 15 September 2026, 22.46 WITA

BYD Siap Uji Coba Mobil Baterai Solid-State Tahun Depan
Selasa, 15 September 2026, 22.46 WITA

iPhone, Mac, dan Apple Watch Terintegrasi untuk Produktivitas Maksimal
Selasa, 15 September 2026, 22.46 WITA

MacBook Unggul di Efisiensi, Integrasi, dan Keamanan
Selasa, 15 September 2026, 22.46 WITA

Menghidupkan Kenangan 80-an Lewat AI dalam Satu Perintah
Selasa, 15 September 2026, 22.45 WITA

Harga iPhone di Indonesia: Bukan Hanya Soal Pajak
Selasa, 15 September 2026, 22.45 WITA

Trump dan Huang Dorong Percepatan AI Tanpa Regulasi Berlebihan
Selasa, 15 September 2026, 22.38 WITA

Purbaya Serahkan Jabatan, Air Baltic Ajukan Kebangkrutan
Selasa, 15 September 2026, 22.38 WITA


