Selasa, 15 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Cadangan Batu Bara PTBA Masih Terbatas, Posisi Produksi di Papan Tengah

Dirut PTBA mengungkapkan cadangan perusahaan hanya 2,88 miliar ton, berada di posisi kelima produksi nasional, serta terus melampaui kewajiban DMO hingga lebih dari 54%.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 15 September 2026, 22.37 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
Cadangan Batu Bara PTBA Masih Terbatas, Posisi Produksi di Papan Tengah📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengungkapkan keterbatasan cadangan batu bara yang dimilikinya dalam forum rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI. Direktur Utama Bambang Ismawan menyatakan bahwa total cadangan batu bara perusahaan saat ini mencapai 2,88 miliar ton, sementara sumber daya mencapai 5,71 miliar ton. Angka tersebut dinilai relatif kecil jika dibandingkan dengan cadangan nasional yang mencapai sekitar 97,96 miliar ton.

Dari sisi porsi terhadap total sumber daya nasional, PTBA hanya menyumbang sekitar 5,83%, sementara cadangan nasional yang dimiliki perusahaan mencapai sekitar 9,01%. Bambang menyebut kondisi ini cukup mengkhawatirkan, terlebih mengingat PTBA merupakan satu-satunya perusahaan batu bara milik negara yang beroperasi secara nasional. Keterbatasan cadangan berdampak langsung pada kemampuan ekspansi produksi dalam jangka panjang.

Dalam hal produksi, PTBA saat ini menempati posisi kelima di antara perusahaan batu bara terbesar di Indonesia. Urutan tersebut ditempati oleh PT Bumi Resources, Adaro Indonesia, Bayan Group, Sinar Mas Group, dan PTBA sebagai penghuni posisi terakhir dari lima perusahaan besar tersebut. Posisi ini menunjukkan tantangan dalam mempertahankan dominasi pasar meskipun memiliki status sebagai perusahaan milik negara.

Bambang juga menyoroti kinerja perusahaan dalam melaksanakan kewajiban penjualan batu bara untuk kebutuhan domestik (DMO). Meskipun aturan menetapkan batas minimal 25% dari total produksi, PTBA selalu melampaui angka tersebut. Pada periode 2021 hingga 2025, rata-rata realisasi DMO PTBA mencapai lebih dari 54%, jauh di atas ambang batas. Ia menekankan bahwa hal ini berdampak pada penurunan laba, karena alokasi yang lebih besar untuk pasar domestik mengurangi margin keuntungan dari ekspor.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya