Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Wali Kota Baru Peru Dengan Nama Kontroversial Menang Sementara

Seorang kandidat bernama Hitler Mussolini Simeon Flores unggul sementara dalam pemilihan wali kota di Queropalca, Andes, Peru, dengan 229 suara atau 34,54 persen dari total sah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 13 Oktober 2026, 21.02 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 162x dibuka
Wali Kota Baru Peru Dengan Nama Kontroversial Menang Sementara📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kandidat yang memiliki nama yang mencolok, Hitler Mussolini Simeon Flores, berhasil meraih posisi terdepan dalam pemilihan wali kota distrik Queropalca, wilayah pegunungan di Peru. Ia memperoleh 229 suara dari total 663 surat suara sah, menempatkan dirinya sebagai pemenang sementara dalam pemilu regional dan kota 2026 yang dilaksanakan pada 4 Oktober. Hasil sementara menunjukkan ia unggul 25 suara dari pesaing terdekat, Gaspar Benilde Osorio Zambrano, yang mendapatkan 204 suara.

Flores, berusia 45 tahun, maju melalui partai Ahora Nacion. Ia mengungguli tiga kandidat lainnya, termasuk Itala Yovana Santillan Vara dari partai Pais para Todos yang meraih 187 suara (28,21 persen). Sementara dua calon lainnya hanya memperoleh jumlah suara yang jauh lebih rendah, yakni 35 suara (5,28 persen) dan 8 suara (1,21 persen). Total surat suara yang tidak sah berjumlah 14, sedangkan 30 surat suara dinyatakan kosong.

Nama Flores yang menyiratkan dua tokoh diktator dunia, Adolf Hitler dan Benito Mussolini, langsung menarik perhatian publik dan media lokal. Namun, fenomena ini bukan yang pertama kali terjadi di Peru. Sebelumnya, seorang bernama Hitler Alba pernah menjabat wali kota Yungar, kota di wilayah Andes, selama periode 2011–2014 dan kembali terpilih pada 2018. Keberhasilan politiknya menunjukkan bahwa nama yang kontroversial tidak selalu menjadi penghambat dalam proses demokrasi lokal.

Meski telah dinyatakan sebagai pemenang sementara oleh otoritas pemilihan setempat dan hasil penghitungan telah mencakup tiga dari lima desa di distrik tersebut, pengumuman resmi belum dikeluarkan. Keputusan akhir akan menunggu finalisasi seluruh proses penghitungan suara oleh lembaga pemilu nasional. Sementara itu, kehadiran kandidat dengan nama unik ini kembali menggugah diskusi tentang identitas, narasi politik, dan bagaimana masyarakat menilai tokoh publik dalam konteks demokrasi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya