Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

1.200 Orang Ditangkap Akibat Kerusuhan Nasional Prancis

Lebih dari 1.200 orang ditangkap dalam aksi protes yang berubah menjadi kerusuhan di berbagai kota Prancis, menyebabkan 150 polisi terluka dan kerusakan luas pada fasilitas publik serta toko-toko.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 09.05 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 29x dibuka
1.200 Orang Ditangkap Akibat Kerusuhan Nasional Prancis📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Aksi unjuk rasa yang awalnya menentang kenaikan biaya hidup berubah menjadi kekerasan massal di sejumlah kota Prancis, termasuk Paris, Marseille, dan Nice. Menurut pernyataan resmi pejabat pemerintah, jumlah orang yang ditangkap mencapai 1.200 orang, sementara 150 petugas kepolisian mengalami cedera akibat bentrokan dan penyerangan. Perdana Menteri Prancis, Sebastien Lecornu, menyatakan kejadian ini merupakan kejadian sangat serius, namun menekankan keberuntungan karena tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Kerusuhan melanda sepanjang hari, dengan kelompok pemuda bertopeng melakukan penjarahan dan pembakaran mobil serta toko-toko. Di Paris, sejumlah ruas jalan utama mengalami kerusakan parah, sementara di kota lain seperti Limoges, Marseille, dan Lille, bangunan balai kota yang telah berdiri lebih dari 140 tahun rusak akibat api yang sengaja dibakar. Selain itu, fasilitas umum seperti kantor kepolisian di Bordeaux dan kantor pariwisata di Lyon juga menjadi sasaran serangan.

Aksi protes yang dipicu oleh inflasi tinggi dan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah ini diikuti oleh jutaan orang, dengan perkiraan peserta mencapai 550 ribu menurut Kementerian Dalam Negeri dan hingga 800 ribu menurut serikat pekerja CGT. Seorang remaja berusia 17 tahun kehilangan tangan kanannya akibat ledakan granat pengendali massa di Saint-Etienne. Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan kerumunan yang melemparkan benda dan kembang api.

Presiden Emmanuel Macron menegaskan bahwa semua pelaku vandalisme, penjarahan, dan penyerangan terhadap fasilitas negara akan diproses secara hukum. Ia menekankan bahwa tindakan kekerasan tidak akan dibiarkan, terlepas dari latar belakang aksi protes. Beberapa peserta demonstrasi menyuarakan tuntutan politik, termasuk penuntutan mundurnya presiden, serta membandingkan aksi mereka dengan Revolusi Prancis 1789, dengan slogan seperti “Revolusi atau mati” dan “Ini adalah Bastille”.

Pengunjuk rasa menyampaikan berbagai alasan, mulai dari ketidakadilan ekonomi hingga kekecewaan terhadap kelas politik dan kelompok ultra-kaya yang dianggap menumpuk kekayaan selama dekade terakhir. Di Montpellier, spanduk raksasa bertuliskan “Rakyat akan menang” terpampang di alun-alun pusat, sementara di Marseille, peserta berteriak “Semua orang membenci polisi” dan “Macron, mundur!”. Aksi tersebut menunjukkan ketegangan sosial yang dalam, sekaligus memperkuat tekanan terhadap pemerintah menjelang pemilihan umum yang akan digelar dalam enam bulan ke depan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya