10 Emiten Masuk Daftar Kepemilikan Saham Terkonsentrasi Tinggi
Bursa Efek Indonesia dan KSEI mengumumkan 10 emiten dengan konsentrasi kepemilikan saham di atas 95%, termasuk SSMS, SMMT, dan TBIG.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 14 Oktober 2026, 09.14 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 52x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mengumumkan penambahan 10 emiten ke dalam daftar saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC). Daftar ini mencerminkan dominasi kepemilikan oleh sejumlah pemegang saham tertentu, yang secara agregat menguasai lebih dari 95% dari seluruh saham beredar. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari upaya transparansi dan pengelolaan pasar modal yang lebih akuntabel.
PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) menjadi salah satu yang masuk daftar dengan tingkat kepemilikan terkonsentrasi mencapai 95,79% per 1 Oktober 2026. Sementara itu, PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) memiliki tingkat konsentrasi mencapai 97,12%, menunjukkan dominasi kuat oleh sekelompok pemegang saham. PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) juga masuk dalam kategori tersebut dengan persentase kepemilikan sebesar 96,62%, menandakan konsentrasi kepemilikan yang sangat tinggi di sektor infrastruktur.
Lainnya dalam daftar meliputi PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS), PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI), PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA), PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY), dan PT Akasha Wira International Tbk (ADES). Semua emiten ini ditemukan memiliki struktur kepemilikan yang sangat tidak merata, dengan sejumlah pihak mengendalikan sebagian besar saham beredar.
Penerapan klasifikasi HSC bertujuan untuk memberikan informasi lebih jelas kepada investor mengenai struktur kepemilikan perusahaan, sehingga dapat menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi. Dengan adanya daftar ini, diharapkan meningkatkan kesadaran terhadap risiko yang mungkin timbul akibat konsentrasi kepemilikan, terutama terkait kebijakan perusahaan dan transparansi tata kelola.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Rupiah Terus Melemah di Atas Rp18.000/US$
Rupiah mengalami tekanan berkelanjutan dengan nilai tukar menembus level Rp18.040 per dolar AS, dipicu penguatan greenback dan penurunan persepsi investasi global.
25 Oktober 2026

BRILink Agen Fillio Dorong Inklusi Keuangan di Dumai
Layanan keuangan melalui BRILink Agen Fillio di Dumai berhasil meningkatkan akses transaksi keuangan bagi masyarakat, terutama UMKM dan lansia, sekaligus mendukung perputaran ekonomi lokal.
25 Oktober 2026

Obama: Pemilu Sela adalah Batas Terakhir Menghentikan Kebodohan Politik
Mantan Presiden AS Barack Obama menyerukan dukungan terhadap Demokrat dalam pemilu sela, menilai pemerintahan Trump telah membawa kekacauan dan kebijakan yang merusak stabilitas ekonomi dan keamanan nasional.
25 Oktober 2026

Singapura Jamin Stabilitas Energi Meski RI Kurangi Ekspor Gas
Singapura menegaskan kesiapan menghadapi pemangkasan pasokan gas dari Indonesia, dengan cadangan dan diversifikasi sumber yang memadai.
25 Oktober 2026
Berita Lainnya

Pengawal Energi Buka Pendaftaran untuk Lulusan Muda
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.26 WITA

Target PNBP ESDM 2026 Naik Jadi Rp165 Triliun
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.26 WITA

Jasa Marga Jalankan Preservasi Berkala Jalan Tol
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.25 WITA

Prabowo Bahas Pendidikan Kepemimpinan di Hambalang
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.25 WITA

Pemerintah Siapkan Rp883 Miliar untuk Diskon Transportasi Nataru
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.21 WITA

Kebijakan Pertanian Dorong Peningkatan Daya Beli Petani Lampung
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.21 WITA

Copshop: Dua Musuh dalam Sel yang Harus Bersatu
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.15 WITA

Serangan di Gereja Karak Tewaskan Sembilan Orang, Raja Yordania Tegaskan Tindakan Tegas
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.03 WITA

