Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Aksi Kekerasan dan Penjarahan Mewarnai Gelombang Protes di Prancis

Gelombang protes yang melanda Prancis akibat kenaikan biaya hidup berujung pada kerusuhan, penjarahan toko, dan kebakaran di sejumlah kota utama.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 15.32 WITA·👁 4 orang membaca· 0 hari ini · 61x dibuka
Aksi Kekerasan dan Penjarahan Mewarnai Gelombang Protes di Prancis📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Gelombang protes yang bermula dari keluhan pelajar soal kondisi fasilitas sekolah kini meluas menjadi demonstrasi nasional dengan eskalasi kekerasan di berbagai kota besar Prancis. Di tengah demonstrasi besar-besaran, muncul aksi penjarahan yang melanda toko-toko di kawasan strategis, termasuk pusat perbelanjaan dan area pusat kota. Pelaku, sebagian besar adalah kelompok muda, memasuki toko secara paksa dan mengambil barang secara liar, mulai dari produk perawatan kulit hingga peralatan elektronik.

Di kawasan Place de la Republique, sebuah toko perawatan kulit menjadi sasaran amukan massa. Produk-produk di dalam toko dibuang ke luar dan dibawa kabur oleh kerumunan. Toko handphone dan pusat perbelanjaan lainnya juga tak luput dari serangan. Di beberapa titik, para demonstran mengambil minuman beralkohol dari supermarket dan melemparkannya ke arah petugas keamanan yang berjaga, menimbulkan ketegangan tinggi.

Kerusuhan semakin memburuk dengan terjadinya kebakaran di sejumlah lokasi. Salah satunya adalah bar bernama La Barrique yang hangus terbakar. Mobil dan sepeda yang terparkir di dekat lokasi kejadian juga dibakar, menciptakan suasana kacau di kawasan kota. Fenomena serupa terjadi di Marseille, Lille, dan Nice, di mana ratusan toko — mulai dari toko mewah hingga warung roti — mengalami kerusakan dan pencurian massal. Toko elektronik, toko olahraga, hingga dealer sepeda motor menjadi sasaran utama amukan massa.

Akar dari krisis sosial ini berasal dari ketidakpuasan terhadap tingginya biaya hidup, kenaikan harga bahan bakar, serta kualitas layanan publik yang dinilai menurun. Aksi kekerasan yang dilakukan terhadap para pelajar saat berunjuk rasa turut memperparah tensi. Kebijakan penanganan demonstrasi yang dianggap tegas dan tidak proporsional memicu kemarahan publik yang semakin meluas. Kini, gelombang protes tidak lagi terbatas pada kelompok tertentu, melainkan melibatkan berbagai lapisan masyarakat yang menuntut perubahan sistemik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya