Sabtu, 3 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Aplikasi Virtual Redam Impian Belanja Tanpa Bayar

Generasi muda Korea Selatan menemukan cara baru mengendalikan kebiasaan konsumtif lewat simulasi digital yang tak perlu keluarkan uang.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 3 Oktober 2026, 15.23 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 11x dibuka
Aplikasi Virtual Redam Impian Belanja Tanpa Bayar📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Di tengah tekanan ekonomi yang terus meningkat, sejumlah pemuda di Korea Selatan mulai memanfaatkan aplikasi digital sebagai alat pengendalian diri. Mereka menggunakan platform virtual untuk meniru aktivitas membeli makanan, minum alkohol, bahkan merokok—semua tanpa perlu mengeluarkan uang. Prosesnya menyerupai penggunaan aplikasi pesan antar, mulai dari memilih menu, menekan tombol pesan, hingga melacak estimasi pengiriman. Namun, makanan yang dipesan tak pernah tiba, dan pengguna hanya menerima tanda terima digital yang menunjukkan penghematan kalori dan biaya.

Salah satu pengguna, Lee Joo-hyun (25), mengaku merasa puas secara psikologis meski tak menelan makanan. Ia menyebut bahwa melihat angka penghematan di layar memberinya kebanggaan tersendiri. Aplikasi bernama *FoodNeverArrives* yang diluncurkan Juli lalu telah diunduh lebih dari 10 ribu kali di Google Play Store. Pengguna lain, Park Hyun-ji (24), menyatakan aplikasi ini membantunya menghindari kebiasaan belanja impulsif yang sering menimbulkan penyesalan setelah makanan tiba.

Tren ini tak hanya terbatas pada makanan. Ada aplikasi bernama *Maeumjaro* yang mensimulasikan suntikan penurun berat badan dengan menampilkan pengurangan cairan di layar saat pengguna menempelkan ponsel ke perut, seolah sedang menyuntikkan obat. Aplikasi serupa untuk merokok juga muncul, seperti *Online Damta*, yang menampilkan bara rokok menyala di layar sebagai bentuk pelarian saat stres. Pengguna mengaku merasa tenang melihat proses tersebut, meski tak melakukan aktivitas nyata.

Para ahli menyambut fenomena ini sebagai bentuk kreativitas dalam mengelola keinginan diri di tengah keterbatasan finansial. Profesor Sosiologi Universitas Sungkyunkwan, Koo Jeong-woo, menjelaskan bahwa perbedaan utama dari placebo digital ini adalah kesadaran bahwa semua simulasi adalah fiktif. Ini bukan tentang kepercayaan, melainkan alat untuk mengendalikan impuls. Namun, dokter keluarga Kang Jae-heon menekankan pentingnya batas—simulasi tak bisa menggantikan kepuasan fisik jangka panjang, dan terlalu bergantung pada bentuk virtual bisa mengurangi efektivitas pengendalian diri sejati.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya