Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Arie Kriting Ajak FFI Tinjau Ulang Representasi Karakter Timur

Komika dan aktor Arie Kriting menyoroti ketimpangan representasi karakter dari Indonesia Timur dalam industri film, mengajak juri FFI mengevaluasi narasi dan standar penilaian yang masih terjebak dalam stereotip.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 14 Oktober 2026, 21.01 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 28x dibuka
Arie Kriting Ajak FFI Tinjau Ulang Representasi Karakter Timur📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Arie Kriting mengungkapkan keprihatinan terhadap cara industri perfilman nasional menggambarkan karakter dari wilayah timur Indonesia, yang kerap kali disajikan melalui lensa yang sempit dan klise. Dalam unggahan media sosial, ia menyoroti bagaimana tokoh dari daerah tersebut kerap diposisikan sebagai korban atau penderita, seolah hanya bisa diakui jika mengalami penderitaan. Menurutnya, narasi semacam ini mencerminkan bias yang mendalam dan membatasi kreativitas dalam penggambaran keberagaman budaya.

Ia menyoroti khusus penampilan Irma Rihi dalam film *Na Willa* sebagai sosok ibu yang tampil otentik tanpa mengorbankan identitas khas ketimuran. Menurut Arie, aktingnya yang natural dan mendalam layak diakui secara profesional, terlepas dari latar belakang geografis karakternya. Ia mempertanyakan mengapa peran yang sejatinya mencerminkan kehidupan sehari-hari justru tidak dianggap layak untuk dipertimbangkan dalam nominasi FFI.

Kritik juga disampaikan terhadap praktik penilaian dialek daerah yang dinilai timpang. Arie menyoroti kejadian di mana aktor dari kota besar mendapat pujian meski menggunakan logat Timur yang tidak akurat, seperti memakai dialek Ambon atau Papua dalam konteks Sumba. Ia menekankan perlunya konsistensi dan keakuratan dalam representasi budaya agar tidak terjadi distorsi yang mereduksi nilai autentisitas.

Meski menegaskan bahwa keputusan juri FFI bersifat final, Arie menegaskan bahwa masukan yang disampaikan bersifat konstruktif dan bertujuan memperkaya kerangka penilaian di masa depan. Ia berharap juri dan insan perfilman lebih terbuka terhadap beragam bentuk karakter, bukan hanya yang menggambarkan kesengsaraan, tetapi juga kehidupan sehari-hari yang kompleks dan bermakna.

Pernyataan ini mendapat respons positif dari berbagai tokoh perfilman, termasuk sutradara, penulis naskah, dan rekan sesama aktor. Banyak yang menyatakan bahwa absennya nama-nama seperti Irma Rihi, Gina S Noer, dan Elisabeth Sisauta dari daftar nominasi mencerminkan celah dalam sistem pengakuan. Dukungan juga datang dari Ryan Adriandhy, sutradara *Na Willa*, yang menyampaikan terima kasih atas perhatian yang disampaikan, sebagai bentuk refleksi terhadap kualitas dan keberagaman karya film lokal.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya