Sabtu, 26 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Arsenik dalam Makanan: Bahaya Tak Selalu Dari Jumlah, Tapi Jenisnya

Kandungan arsenik dalam beras dan ikan bukan berarti beracun secara otomatis, karena toksisitas tergantung pada bentuk kimianya, bukan total kadar.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 25 September 2026, 21.19 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 31x dibuka
Arsenik dalam Makanan: Bahaya Tak Selalu Dari Jumlah, Tapi Jenisnya📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Arsenik memang sering dikaitkan dengan racun, namun keberadaannya dalam makanan tidak otomatis berarti berbahaya. Zat ini secara alamiah ditemukan di tanah dan air, sehingga dapat masuk ke dalam rantai pangan melalui proses penyerapan oleh tanaman atau organisme laut. Namun, tidak semua bentuk arsenik sama berisiko bagi kesehatan manusia. WHO membedakan arsenik menjadi dua jenis utama: anorganik dan organik, dengan perbedaan signifikan dalam tingkat toksisitas.

Arsenik anorganik, yang lebih berbahaya, menjadi fokus utama dalam penilaian keamanan pangan karena potensi menyebabkan kanker dan gangguan kronis jika terpapar secara terus-menerus. Tanaman padi, terutama pada sawah yang tergenang, memiliki kecenderungan menyerap arsenik anorganik lebih tinggi dibanding tanaman serealia lain. Sementara itu, arsenik organik, yang jauh lebih aman, umum ditemukan dalam ikan dan makanan laut. Meski kadar total arsenik pada seafood bisa tinggi, sebagian besar berbentuk organik sehingga tidak menimbulkan risiko serius bagi konsumen.

Standar internasional seperti Codex Alimentarius menetapkan batas maksimum arsenik anorganik dalam beras giling (polished rice) sebesar 0,20 mg/kg, sedangkan beras pecah kulit (husked rice) diperbolehkan hingga 0,35 mg/kg. Angka ini khusus untuk arsenik anorganik, bukan total arsenik, dan merupakan bagian dari sistem pengendalian risiko, bukan indikator keamanan mutlak. Dengan demikian, tidak bisa disimpulkan bahwa makanan dengan kadar di bawah batas tersebut sepenuhnya aman, atau yang di atasnya langsung beracun.

Paparan akut arsenik anorganik dapat menimbulkan gejala keracunan akut seperti muntah dan diare, tetapi risiko utama bagi kesehatan jangka panjang adalah paparan kronis melalui konsumsi rutin makanan atau air minum terkontaminasi. Efek jangka panjang mencakup kerusakan kulit, kanker, dan gangguan organ vital. Namun, risiko ini bergantung pada dosis, durasi paparan, berat badan, dan sumber lain yang mungkin terkontaminasi.

Oleh karena itu, pendekatan yang lebih tepat bukan menghindari semua makanan yang mengandung arsenik, melainkan mengurangi paparan secara keseluruhan. Organisasi kesehatan global menekankan pentingnya spesiasi arsenik dalam penilaian keamanan pangan, bukan sekadar mengukur total kandungan. Dengan memahami perbedaan jenis arsenik, masyarakat dapat membuat keputusan konsumsi yang lebih bijak tanpa perlu panik terhadap informasi seputar kandungan zat tersebut dalam makanan sehari-hari.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya