Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

AS Diminta Larang Mobil China demi Keamanan Nasional

Produsen otomotif utama AS mendesak Kongres segera sahkan larangan permanen mobil asal China sebelum akhir tahun, menyusul kekhawatiran ancaman keamanan data dari teknologi konektivitas.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 22.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
AS Diminta Larang Mobil China demi Keamanan Nasional
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kongres Amerika Serikat kini dihadapkan pada tekanan besar untuk segera mengesahkan regulasi pelarangan kendaraan bermotor dari China, setelah Aliansi untuk Inovasi Otomotif—yang mewakili produsen besar seperti General Motors, Ford, Toyota, Volkswagen, Hyundai, Honda, dan Stellantis—mengungkapkan ancaman serius terhadap keamanan nasional. Dalam surat resmi yang dikirim ke anggota Kongres, CEO aliansi John Bozzella menekankan urgensi tindakan, menilai bahwa kendaraan China yang dilengkapi perangkat lunak dan keras terkoneksi secara global berpotensi mengakses data sensitif pengguna di AS.

Ancaman yang disebutkan bukan sekadar spekulasi, melainkan hasil dari ekspansi cepat industri otomotif China yang didukung subsidi pemerintah, dengan produk yang menyertakan teknologi komunikasi seperti Bluetooth, Wi-Fi, jaringan seluler, dan komunikasi satelit. Bozzella menegaskan bahwa meskipun belum terjadi pelanggaran nyata di pasar AS, kecepatan dan skala ekspansi China membutuhkan respons proaktif. Ia meminta pengesahan undang-undang sebelum akhir tahun ini agar menjadi hukum tetap di tingkat nasional.

Pesan yang disampaikan melalui surat tersebut menekankan bahwa tindakan ini bukan sekadar perlindungan industri domestik, melainkan respons strategis terhadap upaya China untuk mendominasi rantai pasok dan pasar global otomotif. Pengesahan RUU tersebut, menurut Bozzella, akan menunjukkan kesatuan politik antarpartai AS dalam menjaga keamanan nasional dan menghadang ekspansi teknologi asing yang berpotensi mengancam privasi dan infrastruktur kritis.

Namun, langkah tersebut masih menghadapi tantangan internal, terutama terkait ketentuan larangan bagi perusahaan yang memiliki kepemilikan entitas China di atas 15 persen. Aturan ini berpotensi mengganggu kehadiran merek-merek global seperti Mercedes-Benz dan Polestar di pasar AS, meskipun mereka bukan produsen China. Di sisi lain, Kedutaan Besar China di Washington menegaskan bahwa Beijing telah membuka akses penuh bagi investasi asing di sektor manufaktur, menekankan keberhasilan Tesla, Buick, Toyota, dan Ford dalam memasuki pasar Tiongkok sebagai bukti keterbukaan pasar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya