Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Asap Karhutla Guyur IKN, Aktivitas Pemerintahan Tetap Berjalan

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan menyelimuti Ibu Kota Nusantara, termasuk Istana Garuda, meski aktivitas pemerintahan tetap berjalan normal dengan imbauan penggunaan masker.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 17.41 WITA·👁 4 orang membaca· 0 hari ini · 58x dibuka
Asap Karhutla Guyur IKN, Aktivitas Pemerintahan Tetap Berjalan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur kini dilanda kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang membentang di sekitar wilayah deliminasi. Asap tersebut mengaburkan pemandangan bangunan utama seperti Istana Garuda, rusun ASN, dan perkantoran di kawasan inti pusat pemerintahan (KIPP), bahkan membuat Masjid Negara yang biasanya terlihat mencolok kini nyaris tak terlihat dari kejauhan.

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menyatakan bahwa seluruh aktivitas pemerintahan tetap berjalan normal meski kondisi udara memburuk. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap paparan asap, khususnya pada pagi hari yang menjadi puncak kepekatan. Ia mengimbau masyarakat dan aparatur sipil negara (ASN) yang beraktivitas di IKN untuk selalu menggunakan masker sebagai langkah proteksi.

Data dari Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang dirilis KLH/BPLH menunjukkan kualitas udara di sekitar Plaza Bhinneka KIPP IKN berada dalam kategori "Tidak Sehat". Pada pukul 13.00 Wita, Kamis (15/10), nilai ISPU PM2.5 mencapai 121, bahkan sempat melonjak hingga 150, yang mengindikasikan risiko kesehatan tinggi bagi populasi sensitif. Pemantauan dilakukan secara rutin melalui alat yang dipasang di taman Bhineka Tunggal Ika.

Upaya penanggulangan terus dilakukan dengan melibatkan berbagai instansi, termasuk Lanud Dhomber dan BMKG. Pengerahan helikopter untuk water bombing telah dilakukan untuk memadamkan titik api, sementara operasi modifikasi cuaca (OMC) juga diterapkan guna mendorong terbentuknya hujan. Meski belum optimal karena keterbatasan awan, langkah ini menjadi bagian dari strategi mitigasi yang terus diperkuat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya