Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Asap Karhutla Perparah Risiko Pneumonia

Paparan asap akibat kebakaran hutan dan lahan dapat melemahkan sistem pertahanan paru, meningkatkan kerentanan terhadap infeksi pneumonia.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 22.16 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Asap Karhutla Perparah Risiko Pneumonia📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar mengganggu visibilitas, tetapi juga membawa ancaman serius bagi kesehatan pernapasan. Partikel halus seperti PM2.5, yang berukuran di bawah 2,5 mikrometer, mampu menembus saluran pernapasan hingga ke alveolus—tempat terjadi pertukaran gas. Ketika masuk ke area ini, partikel asing dapat mengganggu fungsi alami paru yang seharusnya menjaga kebersihan organ tersebut.

Sistem pertahanan alami paru, seperti mekanisme mucociliary clearance, berfungsi untuk menangkap partikel dan mikroorganisme kemudian mengeluarkannya melalui lendir dan gerakan silia. Namun, paparan berkepanjangan terhadap asap dapat mengurangi efektivitas proses ini. Produksi lendir dan zat antimikroba pun terganggu, sehingga partikel berbahaya dan bakteri dapat bertahan lebih lama di saluran napas.

Selain itu, sel imun dalam paru, khususnya alveolar macrophage, yang bertugas menangkap dan menghancurkan patogen, juga mengalami disfungsi akibat paparan partikel halus. Studi menunjukkan bahwa paparan PM2.5 menghambat proses fagositosis, sehingga bakteri seperti Streptococcus pneumoniae—penyebab utama pneumonia—dapat bertahan dan berkembang biak. Dalam kondisi ini, paru kehilangan kemampuan membentengi diri dari infeksi.

Paparan asap juga merusak lapisan epithelial barrier, yaitu pertahanan pertama saluran napas yang berfungsi sebagai penghalang fisik terhadap patogen. Ketika lapisan ini rusak, mikroorganisme lebih mudah menembus jaringan paru dan memicu infeksi. Pneumonia bukan disebabkan langsung oleh asap, melainkan sebagai konsekuensi dari melemahnya sistem pertahanan tubuh akibat paparan jangka panjang terhadap polusi udara.

Oleh karena itu, masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak asap karhutla perlu meningkatkan proteksi diri, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan kronis. Upaya pencegahan harus fokus pada pengurangan paparan dan penguatan daya tahan tubuh agar risiko infeksi paru, termasuk pneumonia, tetap terkendali.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya