Minggu, 4 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Asap Karhutla Picu Kualitas Udara Buruk di Makassar

Kualitas udara Makassar memburuk akibat asap dari kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan yang terbawa angin, dengan PM2,5 mencapai level kurang sehat di pagi dan malam hari.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 4 Oktober 2026, 17.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Asap Karhutla Picu Kualitas Udara Buruk di Makassar📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kualitas udara di Makassar dan sekitarnya kembali menunjukkan penurunan, terutama pada pagi dan dini hari, dengan indikator PM2,5 berada pada kategori kurang sehat hingga sedang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) wilayah IV Makassar mengidentifikasi asap dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan sebagai penyebab utama, yang terbawa arus angin dari barat hingga barat laut.

Kondisi tersebut cenderung membaik seiring berjalannya siang hingga sore hari, menunjukkan pola keterkaitan langsung dengan pergerakan angin. Menurut prakirawan BMKG, Asriani Idrus, keberadaan hotspot yang masih dominan di wilayah Kalimantan menjadi ancaman berkelanjutan, dengan potensi asap masuk ke Sulawesi Selatan dalam beberapa hari ke depan.

Pemantauan menunjukkan bahwa emisi dari kendaraan bermotor belum menjadi faktor utama dalam peningkatan partikel PM2,5. Data menunjukkan tingkat emisi kendaraan masih berada dalam kisaran normal, sehingga asap dari kebakaran lahan tetap dianggap sebagai sumber dominan.

Cuaca panas yang dirasakan masyarakat Sulawesi Selatan dinilai masih dalam kondisi normal mengingat wilayah tersebut sedang memasuki musim kemarau. Suhu udara berkisar antara 30 hingga 35 derajat Celsius, namun rasa panas yang dirasakan lebih tinggi akibat kombinasi kelembapan, arah angin, dan radiasi matahari, yang memengaruhi indeks panas atau heat index.

BMKG terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan polusi udara secara intensif, dengan harapan masyarakat dapat mengambil langkah antisipatif, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya