Selasa, 6 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Aurora dan Meteor Berpadu di Langit Oktober 2026

Oktober 2026 menawarkan deretan fenomena langit langka, termasuk puncak aurora, penampakan Saturnus terdekat, hingga kesempatan terakhir menangkap inti Bimasakti sebelum menghilang hingga musim semi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 15.21 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
Aurora dan Meteor Berpadu di Langit Oktober 2026📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Bulan Oktober 2026 menjadi periode paling menarik bagi para pengamat langit, dengan sejumlah peristiwa astronomi yang berpotensi menghadirkan pemandangan spektakuler di langit malam. Seiring memanjangnya durasi gelap malam dan meningkatnya aktivitas geomagnetik menjelang ekuinoks musim gugur, puncak musim aurora borealis diperkirakan terjadi sepanjang bulan ini, terutama di wilayah beriklim sedang di belahan bumi utara.

Planet Saturnus mencapai posisi oposisi pada 4 Oktober, menjadikannya objek paling terang dan terdekat dari Bumi dalam satu dekade terakhir. Dengan mata telanjang, planet bercincin ini terlihat jelas sepanjang malam, sementara teleskop kecil mampu mengungkap detail cincinnya yang megah. Di hari yang sama, terjadi okultasi Jupiter oleh bulan sabit, di mana raksasa gas itu tampak menghilang sementara di balik cahaya bulan.

Tiga gelombang hujan meteor akan menyemarakkan langit, mulai dari Draconid pada 8–9 Oktober yang ideal karena cahaya bulan minim. Puncak Hujan Meteor Orionid terjadi pada 21–22 Oktober, dengan estimasi 10 hingga 20 meteor per jam setelah tengah malam, meski cahaya bulan cembung sedikit mengganggu. Sementara itu, Hujan Meteor Taurid Selatan pada 14 Oktober dikenal menghasilkan bola api terang meski jumlahnya sedikit.

Pada 8–13 Oktober, muncul kesempatan terakhir untuk mengamati inti Galaksi Bimasakti yang tampak rendah di ufuk barat daya, hanya dalam waktu sekitar 60 menit setelah matahari terbenam, tepat saat bulan baru terjadi pada 10 Oktober. Fenomena langka lainnya adalah lintasan Mars melintasi gugus bintang Beehive (Messier 44) pada 10–12 Oktober, yang bisa diamati dengan binokular.

Pada 25–26 Oktober, Bulan Purnama Hunter's Moon mencapai puncaknya, terbit bersama matahari dan menimbulkan ilusi ukuran besar serta warna keemasan. Di akhir bulan, pada 27 Oktober, Bulan hampir purnama melintasi gugus Pleiades, secara bergantian menutupi sejumlah bintang terang dalam gugus tersebut. Semua fenomena ini menuntut pengamat untuk memilih lokasi gelap, jauh dari polusi cahaya perkotaan, agar pengalaman menikmati alam semesta bisa maksimal.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya