Selasa, 6 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Remaja 15 Tahun Kehilangan Tangan Akibat Ledakan Granat Saat Demo Pelajar

Seorang remaja berusia 15 tahun kehilangan satu tangan akibat ledakan granat karet saat aksi protes pelajar di Prancis, dengan pihak berwajib masih menyelidiki penyebab kejadian tersebut.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 15.32 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Remaja 15 Tahun Kehilangan Tangan Akibat Ledakan Granat Saat Demo Pelajar📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Seorang pelajar berusia 15 tahun mengalami cedera serius hingga kehilangan satu tangan setelah granat karet yang ditembakkan aparat polisi meledak di dekatnya, pada Senin (5/10), di kawasan dekat sekolah menengah kejuruan di Lens, Prancis. Insiden terjadi saat aksi protes berlangsung di dekat Lycee Auguste-Behal, dengan korban segera dilarikan ke rumah sakit di Lille untuk penanganan medis. Kondisinya dikonfirmasi tidak mengancam jiwa oleh Prefek Pas-de-Calais, Francois-Xavier Lauch.

Berdasarkan laporan awal dari sumber kepolisian, remaja tersebut diduga mengambil granat karet yang ditembakkan polisi dan berencana melemparkannya kembali sebelum benda itu meledak di tangannya. Namun, jaksa penuntut umum menyatakan belum ada bukti pasti bahwa ia sengaja mengambil granat tersebut. Kini, kasus ini sedang diselidiki oleh unit internal kepolisian, sementara enam penyelidikan lain tengah berjalan terkait cedera serius yang terjadi selama gelombang protes.

Kementerian Pendidikan Prancis melaporkan sebanyak 190 pelajar terluka sejak aksi protes dimulai, termasuk 24 sekolah yang dibakar atau dirusak, serta 78 staf pengajar yang mengalami luka. Menteri Pendidikan Edouard Geffray menyebut insiden ini sebagai kejadian "sangat dramatis secara kemanusiaan", tetapi menegaskan belum akan memberikan pernyataan lebih lanjut sebelum hasil penyelidikan diperoleh.

Demonstrasi yang awalnya muncul dari protes terhadap kekurangan guru, fasilitas buruk, dan ketimpangan akses pendidikan di sekolah menengah di pinggiran Paris kini menyebar ke berbagai wilayah. Pada 5 Oktober, 589 sekolah dilaporkan mengalami gangguan, turun dari 735 sekolah pada Jumat sebelumnya. Di sejumlah kota, seperti Lille, Toulouse, dan Paris, terjadi bentrokan dengan aparat, penggunaan gas air mata, serta serangan terhadap fasilitas sekolah.

Organisasi hak asasi manusia, Amnesty International Prancis, menyoroti penggunaan kekuatan yang dinilai tidak proporsional terhadap pelajar, termasuk anak di bawah umur, dengan laporan adanya penggunaan pentungan, gas air mata, dan tembakan peluru karet. Mereka menyerukan agar pemerintah menjamin tindakan kepolisian tetap sesuai dengan standar hak asasi manusia. Di tengah eskalasi, organisasi mahasiswa telah mengumumkan rencana aksi nasional pada Selasa (6/10), menekankan pentingnya pendidikan yang setara bagi seluruh anak muda di Prancis.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya