Selasa, 6 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Program Makanan Sehat di Sekolah AS Terhambat Keterbatasan Infrastruktur

Kurangnya dapur, tenaga terampil, dan dana operasional menghambat pelaksanaan program makanan sehat di sekolah-sekolah Amerika Serikat meski pemerintah alokasikan dana bantuan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 15.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Program Makanan Sehat di Sekolah AS Terhambat Keterbatasan Infrastruktur📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Program makanan bergizi gratis yang dicanangkan pemerintah Amerika Serikat dalam kerangka kebijakan kesehatan nasional menghadapi tantangan signifikan di lapangan. Di banyak sekolah, keterbatasan infrastruktur seperti tidak adanya dapur atau peralatan memasak memaksa pihak sekolah mengandalkan makanan siap saji dan beku. Salah satunya terjadi di Sekolah Dasar Thomas Hooker, Connecticut, di mana tiga staf kantin harus mengolah makanan untuk 300 siswa dengan memanaskan nugget ayam dan menyiapkan bahan mentah sederhana seperti buncis dan nasi merah.

Kondisi serupa terjadi di distrik Meriden, yang baru saja mengubah tiga lemari menjadi fasilitas dapur sementara karena bangunan aslinya tidak dilengkapi ruang memasak. Direktur Layanan Makanan dan Nutrisi, Susan Maffe, menyatakan bahwa sistem yang terbatas ini sangat memengaruhi kemampuan sekolah menyediakan hidangan dari bahan segar. Ia mengakui bahwa meski pemerintah pusat telah mengalokasikan dana sebesar US$70 juta untuk peralatan dan US$30 juta untuk penelitian, jumlah tersebut tidak cukup menjangkau seluruh sekolah di 50 negara bagian.

Di South Dakota, distrik Sioux Falls juga menghadapi kendala serupa meskipun memiliki dapur pusat. Sebanyak 24 sekolah dasar hanya dilengkapi wastafel, kulkas, dan lemari, sehingga tidak mampu memasak dari awal. Dari total kebutuhan US$350 ribu untuk melengkapi fasilitas, distrik hanya menerima US$69 ribu dari program hibah Kementerian Pertanian AS. Kekurangan staf terampil juga menjadi hambatan utama, dengan banyak pekerja memilih beralih ke sektor ritel atau logistik karena gaji lebih menarik.

Biaya operasional juga menjadi beban besar. Meriden menghabiskan rata-rata US$5,07 per porsi makan siang, sementara dana pemerintah hanya mencakup sekitar US$4,80. Perbedaan ini berpotensi menimbulkan defisit mencapai US$250 ribu per tahun. Untuk menutupi kekurangan, sekolah memanfaatkan pendapatan dari penjualan makanan ringan dan katering kegiatan sekolah. Di sisi lain, standar nutrisi baru dari Kementerian Pertanian AS yang menekankan pemanfaatan bahan segar membuat pihak sekolah semakin cemas soal kesiapan infrastruktur dan keuangan.

Namun, ada juga progres positif. Littleton Public Schools di Colorado berhasil membuka dapur produksi pusat senilai US$4 juta yang dibangun dari dana distrik, sisa dana pandemi, dan donasi lokal. Dapur ini mampu memproduksi berbagai menu segar seperti taco dengan daging sapi lokal dan saus marinara, meningkatkan proporsi makanan segar dari 25% menjadi lebih dari 50%. Meski demikian, tantangan budaya konsumsi tetap ada—banyak siswa yang sudah terbiasa dengan makanan olahan seperti makaroni keju.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya