Senin, 28 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

BNI Dorong Pertanian Berkelanjutan Tanpa Butuh Slip Gaji

BNI menyalurkan pembiayaan Rp2,4 triliun hingga September 2026 untuk sektor pertanian dengan pendekatan berbasis ekosistem dan penilaian berbasis arus kas, bukan slip gaji.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 26 September 2026, 23.15 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 11x dibuka
BNI Dorong Pertanian Berkelanjutan Tanpa Butuh Slip Gaji📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pembiayaan pertanian di Indonesia kini mengalami transformasi signifikan, terutama dalam pendekatan penyaluran kredit yang tidak lagi mengandalkan dokumen formal seperti slip gaji. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk menegaskan bahwa akses modal bagi petani kini didasarkan pada karakteristik siklus usaha, arus kas, dan prospek komoditas, bukan sekadar dokumen keuangan konvensional. Pendekatan ini menjadi kunci untuk memastikan keberlanjutan produksi pangan nasional di tengah fluktuasi cuaca dan harga pasar.

Hingga September 2026, BNI telah menyalurkan pembiayaan sektor pertanian senilai sekitar Rp2,4 triliun, atau setara 13,9 persen dari total kredit di segmen tersebut. Dana tersebut tidak hanya mengalir ke petani individu, tetapi juga merangkai seluruh ekosistem agribisnis — mulai dari hulu seperti pupuk dan alat pertanian, hingga hilir seperti pengolahan dan distribusi hasil panen. Pendekatan ini menekankan integrasi rantai nilai sebagai fondasi penguatan ketahanan pangan.

Bank memastikan penilaian kredit tidak dilakukan secara seragam. Setiap calon debitur dinilai berdasarkan karakteristik usaha, pengalaman, produktivitas, serta kemampuan menghasilkan arus kas selama siklus tanam dan panen. BNI menekankan bahwa keberadaan slip gaji atau laporan keuangan formal bukan syarat mutlak. Kelayakan dilihat dari konsistensi usaha, riwayat pembayaran, legalitas operasional, dan potensi pemasaran hasil pertanian. Dengan demikian, petani yang tidak memiliki dokumen formal tetap berkesempatan mendapatkan dukungan finansial.

Risiko gagal panen akibat cuaca atau fluktuasi harga komoditas menjadi pertimbangan utama dalam analisis kredit. BNI melakukan mitigasi risiko sejak tahap awal dengan mempertimbangkan siklus produksi, kondisi pasar, dan profil risiko masing-masing pelaku usaha. Pendekatan berbasis ekosistem — seperti keterlibatan koperasi, kelompok tani, dan offtaker — turut memperkuat stabilitas pemasaran dan keberlanjutan usaha, sehingga meminimalkan potensi kerugian akibat ketidakpastian pasar.

Dengan strategi tersebut, BNI menegaskan komitmennya dalam mendukung agenda nasional ketahanan pangan. Pembiayaan tidak hanya berfungsi sebagai penyedia modal, tetapi juga sebagai alat penguatan rantai nilai pertanian secara menyeluruh. Melalui sinergi dengan pemerintah, BUMN, dan pelaku usaha lain, bank berupaya menciptakan sistem pertanian yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya