Cadangan Devisa Turun US$200 Juta Akibat Bayar Utang dan Stabilkan Rupiah
Penurunan cadangan devisa sebesar US$200 juta pada September 2026 disebabkan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah, namun posisi masih aman di atas standar internasional.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 7 Oktober 2026, 15.23 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 mencatat penurunan ringan sebesar US$200 juta, berada di angka US$146,3 miliar, turun dari posisi bulan sebelumnya yang sebesar US$146,5 miliar. Penurunan ini terjadi sebagai respons terhadap kebutuhan likuiditas untuk memenuhi pembayaran utang luar negeri pemerintah serta upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika pasar global.
Dalam keterangan resmi, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia menegaskan bahwa penurunan tersebut bersifat terkendali dan tidak mengganggu kesehatan eksternal nasional. Pembiayaan yang digunakan untuk pembayaran utang dan stabilisasi rupiah dinilai seimbang dengan aliran masuk dari pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa yang terus berkontribusi terhadap posisi devisa.
Pada periode tersebut, cadangan devisa masih cukup untuk menutup kebutuhan impor selama 5,3 bulan atau mencakup pembiayaan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah selama 5,2 bulan. Angka ini jauh melampaui standar internasional yang disyaratkan sebesar tiga bulan impor, menunjukkan ketahanan eksternal yang tetap kuat.
Bank Indonesia menilai bahwa kondisi tersebut mendukung stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional. Dengan persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi Indonesia dan imbal hasil investasi yang kompetitif, arus modal asing tetap mengalir secara stabil. Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperkuat sinergi dengan pemerintah guna menjaga keseimbangan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Pilih Paspor 5 atau 10 Tahun? Ini Perbedaan Biaya dan Manfaatnya
Pemohon paspor di Indonesia bisa memilih masa berlaku 5 atau 10 tahun, tergantung kriteria usia, status pernikahan, dan domisili, dengan perbedaan biaya Rp300.000 antara keduanya.
7 Oktober 2026

Super El Niño 2026–2027 Ancam Ketahanan Pangan dan Stabilitas Ekonomi
Prediksi ilmiah menunjukkan El Niño kuat hingga 2027 berpotensi picu krisis pangan, inflasi, dan kebakaran hutan di sejumlah wilayah Indonesia.
7 Oktober 2026

Penjualan Hotel di Bali Meningkat, Tapi Bukan Tanda Krisis
Lonjakan penawaran hotel di Bali bukan indikator kegagalan bisnis, melainkan bagian dari siklus investasi properti yang dinamis.
7 Oktober 2026

Defisit Transaksi Berjalan Diproyeksi Membesar Tahun Depan
Bank Dunia memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia akan membesar akibat peningkatan belanja prioritas, investasi negara, dan subsidi energi.
7 Oktober 2026
Berita Lainnya

Seniman Asal Tonggouna Konawe Sukses Lukis Logo Partai Rakyat Indonesia
Rabu, 7 Oktober 2026, 15.58 WITA

Seniman Menyelesaikan Logo Partai Rakyat Indonesia
Rabu, 7 Oktober 2026, 15.58 WITA

Otak Tetap Sehat Meski Usia Bertambah
Rabu, 7 Oktober 2026, 15.35 WITA

Minuman Harian Berdampak pada Kesehatan Mental
Rabu, 7 Oktober 2026, 15.32 WITA

Penjualan Daihatsu Naik 10 Persen di Kuartal III 2026
Rabu, 7 Oktober 2026, 15.31 WITA

As Roda Omoda 5 Copot di Malaysia, Chery Lakukan Recall 600 Unit
Rabu, 7 Oktober 2026, 15.31 WITA

Honda 0 Alpha EV Siap Meluncur di India Akhir Tahun Ini
Rabu, 7 Oktober 2026, 15.31 WITA
Omoda 5 Kembali Dicurigai Masalah As Roda, Insiden Baru di Malaysia
Rabu, 7 Oktober 2026, 15.31 WITA

