Rabu, 7 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Cadangan Minyak Global Menipis Akibat Konflik Timur Tengah

CEO Aramco memperingatkan krisis pasokan minyak global akibat perang yang memicu penurunan cadangan hingga 3 miliar barel dalam tujuh bulan terakhir.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 7 Oktober 2026, 09.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
Cadangan Minyak Global Menipis Akibat Konflik Timur Tengah📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kepemimpinan Aramco menyampaikan kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global, menyebut cadangan minyak komersial kini berada di bawah 6 miliar barel—angka yang jauh lebih rendah dari kapasitas pemulihan yang diperlukan. Amin Nasser, CEO perusahaan, menekankan bahwa krisis ini bukan sekadar gangguan jangka pendek, melainkan hasil dari kerusakan infrastruktur dan gangguan logistik yang berkepanjangan akibat konflik di Timur Tengah.

Sebanyak 3 miliar barel minyak, setara dengan setengah dari volume normal yang melewati Selat Hormuz selama periode konflik, telah hilang dari aliran pasar. Untuk mengimbangi kekurangan tersebut, negara-negara telah menarik lebih dari 1 miliar barel dari cadangan strategis, termasuk 300 juta barel yang dilepas secara kolektif dalam beberapa pekan terakhir. Namun, menurut Nasser, sebagian besar penyangga pasokan berasal dari cadangan milik perusahaan, yang ia sebut sebagai "alat terakhir" dalam sistem krisis energi global.

Dalam pidato pertamanya sejak dimulainya konflik, Nasser menyoroti peran teknologi dalam memperburuk situasi, termasuk penggunaan citra satelit dan data pelayaran untuk melacak dan menyerang kapal tanker serta fasilitas produksi. Ia menekankan bahwa alat transparansi yang seharusnya mendukung keamanan justru dikonversi menjadi alat agresi, memperparah ketegangan di kawasan kunci energi dunia. Serangan terhadap infrastruktur Aramco di Irak dan Yaman, yang dilakukan oleh kelompok proksi Iran, telah menyumbang signifikan terhadap gangguan pasokan.

Pemulihan cadangan minyak diperkirakan membutuhkan waktu hingga dua tahun, bahkan setelah konflik berakhir, karena permintaan global tetap tinggi. Nasser mendorong pemerintah negara-negara pengimpor minyak untuk memperkuat strategi ketahanan energi, termasuk diversifikasi rute ekspor dan pengembangan fasilitas penyimpanan di luar negeri. Aramco kini aktif meninjau alternatif rute pengiriman dan kerja sama penyimpanan untuk mengamankan pasokan ke pelanggan.

Meski ada tanda pemulihan, dengan volume pengiriman minyak dari Teluk mencapai 15,5 juta barel per hari bulan lalu—angka tertinggi sejak konflik dimulai—biaya logistik tetap tinggi. Harga kargo fisik minyak mentah Laut Utara untuk pengiriman bulan ini bahkan mencapai level tertinggi sejak April, menunjukkan bahwa pasar masih dalam kondisi tegang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya