Senin, 5 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Charlotte Salawati, Tokoh Perempuan yang Dihapus dari Sejarah

Seorang perempuan pejuang dari Sulawesi Tenggara yang menjadi tokoh penting dalam pergerakan perempuan dan gerilya, namun terpinggirkan dan ditekan selama Orde Baru karena dianggap terkait PKI.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 5 Oktober 2026, 12.15 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Charlotte Salawati, Tokoh Perempuan yang Dihapus dari Sejarah📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Charlotte Salawati, perempuan asal Sulawesi Tenggara yang pernah menjabat sebagai walikota perempuan pertama di Indonesia, kini menjadi sosok yang hampir terhapus dari ingatan publik. Kehidupannya yang penuh kontribusi dalam organisasi perempuan dan perjuangan kemerdekaan justru berakhir dalam penjara tanpa pengadilan, saat militer Orde Baru menghancurkan segala jejak yang dianggap berbau komunis. Ia dipenjara di Bukit Duri, Jakarta, karena keterkaitannya dengan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), yang secara sistematis dilabeli sebagai sayap PKI oleh rezim baru.

Di balik dinding penjara yang keras, Salawati justru menunjukkan kelembutan dan keteguhan yang luar biasa. Sri Utati, salah satu tahanan politik perempuan yang sempat berada satu kamar dengannya, menggambarkan sosok Salawati sebagai pribadi sederhana, tidak membebani, dan selalu memilih melakukan pekerjaan sendiri meski dalam kondisi sakit. Ia menolak bantuan saat mencuci pakaian atau membersihkan tempat tidur, bahkan ketika terbaring sakit, tetap mempertahankan martabat dan kebersihan diri, hingga bau tak sedap dari pakaian yang tidak dicuci tercium dari pispot.

Yang mengejutkan, para perwira militer yang datang ke Bukit Duri justru memberikan hormat kepada Salawati. Mereka, yang biasanya menjadi penguasa di tempat itu, tunduk pada seorang tahanan. Menurut Utati, hal itu disebabkan oleh reputasi Salawati sebagai pejuang gerilya di masa lalu, yang dikenal di kalangan militer sebelum 1965. Namun, ketika kekuasaan berganti, nama dan peran sosok ini justru dihapus, seolah tidak pernah ada.

Setelah bebas pada akhir 1970-an, Salawati tak lagi terlihat dalam ruang publik. Ia hidup dalam kerangka sejarah yang sengaja dibungkam. Sri Utati, yang sempat berbagi pengalaman dan kisah di balik jeruji, menyampaikan bahwa keberadaan Salawati adalah bukti bahwa perempuan juga memiliki peran strategis dalam perjuangan nasional. Ia menekankan pentingnya menuliskan kembali kisah-kisah seperti Salawati, sebagai bentuk perlawanan terhadap penghapusan ingatan oleh rezim yang menindas.

Salawati bukan sekadar korban, melainkan tokoh yang layak dikenang. Kehidupannya yang dipenuhi pengabdian dan keteguhan, lalu dimatikan secara sistematis oleh politik kekuasaan, menjadi simbol betapa rapuhnya sejarah yang disusun oleh pemenang. Menulis kembali kisahnya bukan hanya upaya rekonsiliasi, tetapi juga penghormatan terhadap keberanian yang tak tergantikan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya