Senin, 5 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Murid SD Pemalang Meninggal Dunia Diduga Akibat Kekerasan Kakak Kelas

Seorang siswa kelas 2 SD di Pemalang meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pemukulan dan tendangan oleh tiga kakak kelas, peristiwa yang memicu desakan agar sekolah dan pihak berwajib segera mengungkap fakta dan mencegah kejadian serupa di masa depan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 5 Oktober 2026, 12.14 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Murid SD Pemalang Meninggal Dunia Diduga Akibat Kekerasan Kakak Kelas📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Seorang anak berusia tujuh tahun, M, siswa kelas 2 SDN 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, meninggal dunia pada 30 September 2026, setelah sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Dr Azhari. Kematian korban diduga terkait kekerasan fisik yang diduga dilakukan oleh tiga murid dari kelas 5 dan 6 saat berada di area sekolah usai membeli makanan di kantin. Keluarga korban menyampaikan bahwa anaknya sempat mengeluh sakit perut dan tidak bisa berjalan, hingga ditemukan adanya tanda-tanda pukulan di bagian perut setelah diperiksa dokter.

Kronologi kejadian, menurut keterangan dari teman korban yang disampaikan oleh ibu korban, Diah Indrianti, bermula saat M berada di kantin dan dihadang oleh tiga kakak kelas. M diduga diminta uang, lalu ditinggalkan dan menjadi sasaran pemukulan di depan aula sekolah. Anak tersebut baru mulai bercerita setelah ditemani orang tua dan dokter, menyebutkan bahwa ia dipukul oleh tiga orang kakak kelas. Hasil rontgen menunjukkan adanya peradangan, yang menjadi dasar perawatan intensif selama sembilan hari.

Keluarga korban menyampaikan kekecewaan atas respons lambat dari pihak sekolah. Mereka mengaku telah melaporkan kejadian sejak awal, namun tidak mendapatkan respon serius. Bahkan, menurut Diah, pihak sekolah diduga berupaya menutupi kasus dengan tidak memanggil salah satu pelaku yang disebut korban, serta menunda pertemuan orang tua hingga 1 Oktober. Tidak satu pun dari keluarga pelaku datang menyampaikan permintaan maaf selama masa perawatan korban.

Polres Pemalang telah melakukan autopsi terhadap jenazah untuk menentukan penyebab kematian secara pasti. Kasat Reskrim, AKP Wildan Umar, menyatakan pihaknya telah memeriksa enam saksi, termasuk teman korban, orang tua, dan pihak sekolah. Pemeriksaan terhadap terduga pelaku dijadwalkan dilakukan pada Senin (04/10), dengan kemungkinan proses hukum jika ditemukan bukti adanya unsur pidana. Sementara itu, Plt Bupati Pemalang, Nurkholes, telah mengunjungi rumah duka dan sekolah untuk mendapatkan informasi lebih lanjut terkait kejadian tersebut.

Kasus ini menyoroti kembali persoalan kekerasan di lingkungan pendidikan yang terus terjadi, meskipun telah dilaporkan secara rutin. Forum Serikat Guru Indonesia mencatat 36 kasus kekerasan fisik dari total 100 kasus yang terjadi di seluruh Indonesia sepanjang Januari hingga September 2026. Keluarga korban menyerukan perbaikan sistem keamanan sekolah, termasuk perbaikan CCTV di seluruh sudut, agar kejadian serupa tidak terulang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya