Selasa, 6 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kuartal IV-2026: Ekonomi Indonesia Kokoh di Tengah Tantangan Global

Perekonomian Indonesia pada kuartal IV-2026 menunjukkan stabilitas dengan inflasi terkendali, surplus perdagangan, dan manufaktur kembali ekspansi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 5 Oktober 2026, 09.00 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Kuartal IV-2026: Ekonomi Indonesia Kokoh di Tengah Tantangan Global📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Perekonomian Indonesia memasuki kuartal IV-2026 dengan fondasi yang terus terjaga, meski menghadapi tekanan global akibat suku bunga tinggi yang berkepanjangan. Berbagai indikator ekonomi menunjukkan arah perbaikan, termasuk kendali inflasi, kinerja perdagangan yang positif, serta pemulihan aktivitas manufaktur. Pemerintah menilai kondisi tersebut mencerminkan ketahanan struktural yang semakin kuat di tengah volatilitas eksternal.

Inflasi tahunan pada September 2026 mencapai 3,28%, berada dalam target nasional 2,5% ±1%. Inflasi inti turun ke level 2,84%, sementara inflasi harga yang diatur pemerintah berada pada 3,25%. Komponen pangan yang fluktuatif masih menjadi perhatian utama, dengan inflasi volatile food sebesar 5,03% karena gangguan produksi akibat cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam. Untuk meredam dampaknya, pemerintah mempercepat penyaluran PKH Tahap III, memberikan bantuan beras 10 kilogram bulanan, serta memperkuat program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan melalui Perum Bulog.

Secara eksternal, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar US$7,25 miliar hingga Agustus 2026. Ekspor besi dan baja tumbuh 4,88% menjadi US$19,18 miliar, ekspor CPO dan turunannya naik 6,57% menjadi US$17,75 miliar, serta ekspor batu bara mencapai US$16,58 miliar dengan pertumbuhan 4,31%. Ekspor industri pengolahan juga melonjak 6,62%, mencerminkan efektivitas kebijakan hilirisasi. Impor didominasi bahan baku dan barang modal, dengan kontribusi total 91,3% dari nilai impor keseluruhan, termasuk kenaikan 15,26% untuk mesin mekanis dan 22,94% untuk peralatan elektrik, menunjukkan meningkatnya aktivitas investasi.

Industri manufaktur menunjukkan pemulihan signifikan, ditunjukkan oleh kenaikan PMI Manufaktur dari 49,8 di Agustus menjadi 52,4 pada September 2026—kembali masuk zona ekspansi. Peningkatan pesanan baru tercepat sejak Februari, sementara pesanan ekspor mencatat pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022. Aktivitas pembelian, penyerapan tenaga kerja, dan persediaan bahan baku juga meningkat. Inflasi biaya input dan output melambat ke level terendah dalam enam bulan terakhir, sementara optimisme pelaku usaha terhadap prospek produksi 12 bulan ke depan tetap tinggi.

Pemerintah menegaskan komitmen untuk menjaga daya beli masyarakat, mendorong investasi, serta meningkatkan daya saing industri nasional melalui kebijakan yang berkelanjutan. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat pertumbuhan ekonomi secara inklusif dan berkelanjutan di tengah tantangan global yang masih menghantui.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya