Selasa, 6 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

FBI Tangkap Wanita Diduga Mata-Mata China yang Intai Keluarga Pemimpin Taiwan

Seorang perempuan asal California ditangkap FBI karena diduga mengumpulkan data sensitif dari keluarga presiden Taiwan dengan tujuan menyebarkan informasi ke pemerintah Tiongkok tanpa izin.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 09.14 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 12x dibuka
FBI Tangkap Wanita Diduga Mata-Mata China yang Intai Keluarga Pemimpin Taiwan📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Seorang perempuan berusia 34 tahun, Wanying Zhang yang dikenal dengan nama samaran Heather, ditangkap oleh FBI di Bandara Internasional Los Angeles saat bersiap melakukan perjalanan ke Tiongkok. Ia diduga melakukan aktivitas pengintaian terhadap kerabat presiden Taiwan, Lai Ching-te, di wilayah Amerika Serikat. Menurut jaksa federal, Zhang diduga bekerja untuk pemerintah Tiongkok tanpa mendaftarkan diri sebagai agen asing, pelanggaran yang diatur secara ketat dalam hukum AS.

Pemeriksaan menunjukkan bahwa Zhang mengambil foto dan rekaman video dari individu yang menjadi target, termasuk mencatat nomor pelat kendaraan, yang kemudian dikirimkan ke pejabat Tiongkok. Informasi ini dikonfirmasi oleh Kantor Kepresidenan Taiwan, yang menyatakan bahwa keluarga presiden memang menjadi sasaran pengawasan. Namun, pihak tersebut tidak merinci apakah putra Lai termasuk dalam daftar target.

Taiwan mengecam tindakan tersebut sebagai bentuk penindasan transnasional yang melanggar hak asasi manusia dan kedaulatan nasional. Juru bicara kantor presiden, Karen Kuo, menekankan bahwa aksi tersebut bertujuan untuk mengintimidasi, mengancam, dan melukai keluarga pejuang demokrasi, termasuk mereka yang berada di luar wilayah Taiwan. Ia menegaskan bahwa upaya semacam ini tidak akan menghentikan perjuangan rakyat Taiwan dalam mempertahankan kebebasan dan kedaulatan.

Zhang, yang sebelumnya berprofesi sebagai agen properti berlisensi di Irvine, California, kini dijadwalkan menjalani sidang pertama di pengadilan federal Los Angeles pada Senin, 5 Oktober. Status kewarganegaraannya belum diketahui, begitu pula apakah ia telah didampingi pengacara. Sementara itu, kedutaan Tiongkok di AS belum memberikan pernyataan, dan Kementerian Luar Negeri Tiongkok tidak merespons karena hari libur.

Kasus ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Tiongkok dan Taiwan. Sejak 1949, kedua wilayah terpisah secara politik, dengan Beijing mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Lai Ching-te, yang terpilih sebagai presiden pada 2024, secara tegas menyatakan bahwa Taiwan dan Tiongkok tidak memiliki hubungan hukum atau politik. Ia juga memperkuat kebijakan pertahanan nasional dengan rencana menaikkan anggaran pertahanan dari 3% menjadi 5% dari PDB dan membangun sistem pertahanan udara T-Dome.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya