Aksi Protes Pelajar Prancis Picu Kericuhan dan Penutupan Sekolah
Lebih dari 2.000 orang ditangkap dalam gelombang unjuk rasa pelajar dan mahasiswa yang meluas di Prancis, menyusul kericuhan dan penutupan sekitar 400 sekolah akibat demonstrasi berhari-hari.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 09.20 WITA·👁 2 orang membaca· 2 hari ini · 14x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Aksi protes yang bermula dari keluhan terkait kekurangan tenaga pengajar dan fasilitas sekolah di Prancis berubah menjadi gelombang demonstrasi besar-besaran pada Jumat (2/10). Unjuk rasa yang awalnya dilakukan secara damai di Paris kini menyebar ke berbagai kota, menimbulkan keributan dan bentrokan dengan aparat keamanan. Kekerasan mulai muncul saat massa menolak kebijakan pemerintah dan menuntut perbaikan sistem pendidikan.
Respons pihak kepolisian pun meningkat, dengan penggunaan gas air mata dan peluru karet untuk mengendalikan kerumunan. Tindakan tersebut justru memperparah situasi, menimbulkan kekhawatiran atas pelanggaran hak asasi manusia dan kekerasan berlebihan. Sejumlah wilayah di Prancis terpaksa menutup sekolah demi menjaga keamanan, dengan sekitar 400 institusi pendidikan terdampak.
Demonstrasi ini telah berlangsung sejak bulan September, menunjukkan ketidakpuasan mendalam terhadap kondisi pendidikan yang dianggap semakin memburuk. Pelajar dan mahasiswa menuntut perbaikan infrastruktur, penambahan guru, serta transparansi kebijakan pendidikan nasional. Aksi ini juga menyoroti ketidakmampuan sistem pendidikan dalam merespons tantangan yang terus meningkat.
Pemerintah Prancis kini menghadapi tekanan besar untuk segera merespons tuntutan massa, sambil memastikan keamanan publik tetap terjaga. Kepolisian menyatakan bahwa penangkapan terhadap lebih dari 2.000 orang dilakukan untuk mencegah eskalasi lebih jauh. Namun, kritik terus mengalir bahwa pendekatan represif justru memperuncing ketegangan.
Pemerintah diminta segera membuka dialog dengan perwakilan pelajar dan lembaga pendidikan guna menyelesaikan masalah struktural. Tanpa langkah konkret, potensi konflik serupa berulang di masa depan tetap tinggi.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Yaman Mulai Operasi Militer Skala Besar Hadapi Houthi
Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional resmi meluncurkan operasi militer besar untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi, menyusul lonjakan serangan dan perluasan front pertempuran.
6 Oktober 2026

DPR Minta Penyelidikan Kasus Kematian Siswa SD di Pemalang Transparan
Anggota DPR mendesak Polres Pemalang mengusut kasus kematian siswa SD secara transparan, menyusul aduan orang tua dan informasi terduga pelaku kabur ke luar kota.
6 Oktober 2026

Paman Gubernur Dilantik Jadi Sekretaris Dinas di Sumut
Benny Sinomba, paman Gubernur Sumut Bobby Nasution, resmi dilantik sebagai Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kependudukan serta Catatan Sipil Provinsi Sumut.
6 Oktober 2026

Golkar Ajukan PAW untuk Dua Anggota DPR ke KPU
DPP Golkar siap ajukan pergantian antar waktu terhadap Sarmuji dan Bamsoet ke KPU, dengan pengganti berdasarkan peringkat suara terbanyak dari daerah pemilihan masing-masing.
6 Oktober 2026
Berita Lainnya

Mantan Agen Mata Uang Ilegal Tewas dalam Kecelakaan Helikopter
Selasa, 6 Oktober 2026, 09.22 WITA

FBI Tangkap Wanita Diduga Mata-Mata China yang Intai Keluarga Pemimpin Taiwan
Selasa, 6 Oktober 2026, 09.14 WITA

MK Akan Baca Putusan Gugatan Syarat Pendidikan Cawapres Gibran
Selasa, 6 Oktober 2026, 09.13 WITA

3 Kombes Pol Resmi Jadi Brigjen Pol Usai Promosi Kapolri
Selasa, 6 Oktober 2026, 09.12 WITA

Kejagung Sita Pesawat Diduga Terkait Korupsi MBG, BNPB Bantah Kaitan
Selasa, 6 Oktober 2026, 09.10 WITA

Polda Metro Jaya Periksa Kasus Penganiayaan Mahasiswa BEM UI di Tebet
Selasa, 6 Oktober 2026, 09.09 WITA

Investasi AI Melampaui Era Rel dan Dotcom, Tapi Imbal Hasil Belum Jelas
Selasa, 6 Oktober 2026, 09.09 WITA

KPK Perdalam Dugaan Korupsi Penerimaan Mahasiswa Jalur Mandiri Unsoed
Selasa, 6 Oktober 2026, 09.09 WITA

