Selasa, 6 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Hari Kapas Sedunia: Mengungkap Nilai Ekonomi dan Sosial di Balik Bahan Alami

Setiap 7 Oktober, dunia mengenang peran kapas sebagai komoditas strategis yang menopang jutaan keluarga dan perekonomian negara berkembang.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 09.02 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 3x dibuka
Hari Kapas Sedunia: Mengungkap Nilai Ekonomi dan Sosial di Balik Bahan Alami📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Setiap tahun pada tanggal 7 Oktober, komunitas global memperingati Hari Kapas Sedunia sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi serat alami ini terhadap sektor pertanian, industri, dan kehidupan sosial ekonomi. Peringatan ini lahir dari inisiatif empat negara Afrika produsen kapas—Benin, Burkina Faso, Chad, dan Mali—yang mengusulkan pengakuan global terhadap pentingnya komoditas tersebut. Dukungan internasional kemudian datang dari lembaga seperti WTO, FAO, UNCTAD, ITC, dan ICAC, menandai langkah awal transformasi kapas dari bahan industri menjadi isu kemanusiaan dan keberlanjutan.

Resolusi Majelis Umum PBB pada 30 Agustus 2021 secara resmi menetapkan 7 Oktober sebagai Hari Kapas Sedunia, menjadikannya momentum tahunan untuk memperkuat kesadaran publik terhadap tantangan dan peluang dalam sektor kapas. Tujuan utamanya adalah mendorong perdagangan yang adil, terbuka, dan berkelanjutan, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada produksi kapas sebagai sumber pendapatan utama. Peringatan ini juga menjadi ajang untuk mendorong peningkatan nilai tambah melalui inovasi pengolahan dan penguatan posisi petani kecil dalam rantai pasok global.

Menurut data FAO, kapas memberikan manfaat langsung kepada sekitar 24 juta petani dan lebih dari 100 juta keluarga di berbagai belahan dunia. Perempuan menyumbang sekitar 43 persen dari tenaga kerja dalam proses produksi, menunjukkan peran sentralnya dalam sektor ini. Pada 2024, produksi kapas global diperkirakan mencapai 26 juta ton, dengan nilai ekonomi lebih dari 75 miliar dolar AS per tahun. Proyeksi WTO untuk musim 2026/2027 menunjukkan produksi sekitar 25,9 juta ton dan konsumsi 25,2 juta ton, dengan perdagangan global mencapai 9,6 juta ton.

Namun, industri kapas menghadapi tekanan dari perubahan iklim, gangguan rantai pasok, serta persaingan dari serat sintetis yang semakin diminati konsumen. Pangsa kapas dalam konsumsi serat dunia turun dari sekitar 60 persen pada era 1960-an menjadi sekitar 22 persen pada 2024. Untuk mengatasi tantangan ini, peringatan Hari Kapas Sedunia menjadi ajang strategis untuk mendorong inovasi, efisiensi produksi, dan perlindungan terhadap pekerja serta petani.

Pada 2026, peringatan global akan diselenggarakan di Tashkent, Uzbekistan, dengan fokus pada penguatan investasi di sektor kapas Afrika dan respons terhadap dampak perubahan iklim. Momentum ini menegaskan bahwa kapas bukan sekadar bahan tekstil, melainkan bagian dari ekosistem ekonomi yang kompleks dan sangat terhubung dengan kesejahteraan manusia. Dengan begitu, keberlanjutan kapas menjadi kunci bagi keberlanjutan sosial, ekonomi, dan lingkungan di tingkat global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya