Minggu, 27 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

China Bangun Masa Depan dengan Rencana Jangka Panjang

Kunjungan redaktur ke Beijing dan Shanghai mengungkap strategi sistemik pembangunan berkelanjutan, dari kota hijau hingga pelatihan robot berbasis kecerdasan berwujud.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 27 September 2026, 15.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
China Bangun Masa Depan dengan Rencana Jangka Panjang📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Dalam tujuh hari kunjungan resmi ke dua kota utama Tiongkok, para pemimpin media nasional menyaksikan transformasi yang tak hanya fisik, melainkan juga filosofis dalam pembangunan negara. Beijing, yang dulu dikenal sebagai pusat sejarah dan tradisi, kini menunjukkan arah baru: kota masa depan yang direncanakan secara strategis, bukan sekadar tumbuh secara spontan. Proyek besar di distrik Tongzhou, pusat administrasi baru Beijing, menjadi simbol ambisi jangka panjang ini. Dengan luas 155 kilometer persegi dan investasi awal 120 miliar Yuan, kawasan ini dibangun bukan semata untuk mengurangi beban pusat kota, tetapi sebagai model kota cerdas, rendah karbon, dan ramah lingkungan.

Semua gedung wajib memenuhi standar green building bintang 3 tertinggi, sistem energi 100 persen dari sumber terbarukan, serta transportasi utama berbasis kereta bawah tanah. Dalam proyek yang ditargetkan selesai akhir 2026, fasilitas publik, kawasan wisata, hingga klaster ekonomi digital telah mulai beroperasi. Yang menonjol bukan hanya infrastruktur, tetapi filosofi yang diwujudkan dalam bentuk arsitektur. Di kawasan yang tak jauh dari pusat administrasi, berdiri Beijing City Library — sebuah perpustakaan megah yang dirancang seperti hutan kaca, dengan atap berbentuk daun ginkgo dan 200 pilar putih menjulang.

Koleksi 8 juta buku dan ruang baca seluas 42.000 meter persegi membuatnya tercatat dalam Guinness World Record sebagai perpustakaan terbesar dunia. Dengan sistem peminjaman otomatis dan integrasi jaringan seluruh perpustakaan di Beijing, bangunan ini menjadi simbol bahwa kekuatan suatu negara bukan hanya dari gedung pencakar langit, tetapi dari akses terhadap pengetahuan. Di sini, nilai-nilai pendidikan dan inovasi ditempatkan di posisi puncak, menandai bahwa masa depan dibangun bukan dari kekayaan semata, melainkan dari kebijaksanaan kolektif.

Di kawasan Shijingshan, perjalanan menuju masa depan terus berlanjut. Di Pusat Pelatihan Data Robot Humanoid, para peneliti menunjukkan pendekatan baru dalam pengembangan kecerdasan buatan: bukan hanya berpikir, tetapi juga merasakan dunia fisik. Robot-robot di sini tidak hanya di-program, tetapi dilatih seperti manusia kecil — mengulang gerakan ribuan kali untuk belajar memegang benda, melipat handuk, atau menuangkan air. Setiap gerakan direkam, dianalisis, dan diperbaiki. Proses ini disebut kecerdasan berwujud (embodied intelligence), di mana kecerdasan tidak hanya ada di otak digital, tetapi dalam kemampuan beradaptasi terhadap perubahan fisik.

Hingga Mei 2026, pusat ini telah menghasilkan 20 juta data tahunan dari hampir 270 unit robot yang beroperasi penuh. Angka ini terus meningkat seiring ekspansi fasilitas. Pesan yang tersirat jelas: masa depan teknologi bukan soal siapa yang bisa membeli robot, melainkan siapa yang memiliki data, talenta, dan ekosistem untuk menciptakan robot yang benar-benar pintar. Dengan demikian, China menunjukkan bahwa kemajuan bukan sekadar hasil investasi, melainkan hasil dari perencanaan terpadu, konsistensi, dan kepercayaan terhadap proses panjang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya