Minggu, 27 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Mantan Menteri Agama Jualan Beras di Glodok, Tak Bocorkan Kepada Keluarga

Mantan Menteri Agama RI Saifuddin Zuhri memilih berdagang beras di Pasar Glodok pada 1980-an, menyembunyikan profesi tersebut dari keluarga hingga terbongkar secara tak sengaja.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 27 September 2026, 15.22 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 3x dibuka
Mantan Menteri Agama Jualan Beras di Glodok, Tak Bocorkan Kepada Keluarga📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Setelah menjabat sebagai Menteri Agama RI dari 1962 hingga 1967, Saifuddin Zuhri memilih hidup sederhana tanpa mengandalkan fasilitas negara. Ia menolak rumah dinas meskipun sering didesak, memilih tinggal di rumah pribadi yang dibeli secara cicilan di Kebayoran Baru. Setelah pensiun dari aktivitas politik, ia justru memilih bekerja keras sebagai pedagang beras di Pasar Glodok, Jakarta, dengan rutinitas yang dimulai sejak pukul 09.00 WIB setelah salat Dhuha.

Setiap hari, ia menyetir sendiri mobil kecil untuk mengangkut karung beras dari gudang ke lapak dagangannya. Kegiatan ini dilakoninya secara konsisten hingga bertahun-tahun tanpa pamrih. Ia bahkan menyembunyikan pekerjaannya dari istri dan anak-anak, yang hanya tahu ia pulang membawa uang tanpa mengetahui sumbernya. Keberadaannya sebagai pedagang baru terungkap ketika salah satu putranya secara kebetulan melihatnya melayani pembeli di pasar tradisional.

Kesederhanaan Saifuddin bukanlah hal baru dalam perjalanan hidupnya. Sejak masa muda, ketika anak pertamanya lahir pada 1942, ia pernah menjual barang bekas seperti pakaian, perabotan, hingga rokok untuk menopang kehidupan keluarga. Prinsip hidup itu tetap konsisten hingga akhir hayatnya, bahkan setelah rumah pribadinya lunas, ia memilih menghibahkan seluruh aset tersebut kepada Nahdlatul Ulama demi kepentingan sosial.

Keberaniannya menolak kemewahan dan memilih berjuang di pasar tradisional menjadi bukti nyata integritas yang tak tergoyahkan. Ia meyakini jabatan publik adalah amanah, bukan alat untuk memperkaya diri. Kehidupannya yang sederhana, serta sikap tegas dalam menolak fasilitas negara, menjadi teladan bagi generasi pejabat yang mengutamakan kejujuran dan tanggung jawab.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya