Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Dradjad Soroti Keterbatasan Reputasi MSCI dalam Penilaian Pasar

Wakil Menteri Koordinator Perekonomian menegaskan bahwa meski MSCI dikenal berreputasi tinggi, penilaian mereka tidak selalu akurat atau menguntungkan investor, terutama dalam konteks klasifikasi pasar Indonesia.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 09.23 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 128x dibuka
Dradjad Soroti Keterbatasan Reputasi MSCI dalam Penilaian Pasar📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menegaskan bahwa keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) dalam konsultasi penurunan status Indonesia dari pasar berkembang ke pasar mandiri tidak serta-merta menjadi acuan mutlak bagi kebijakan dan keputusan pasar modal dalam negeri. Ia menekankan pentingnya independensi analisis, menyerukan pelaku pasar untuk tidak langsung bereaksi emosional terhadap perubahan klasifikasi tersebut.

Menurut Dradjad, meski MSCI memiliki reputasi tinggi di dunia keuangan global, hal itu tidak menjamin kebenaran atau keunggulan setiap hasil penilaian yang dikeluarkan. Ia menyampaikan bahwa ada bukti empiris yang menunjukkan bahwa rekomendasi indeks MSCI tidak selalu mencerminkan performa pasar yang optimal. Salah satunya adalah dari analisis yang dilakukan oleh Ali Masarwah, seorang fund analyst dan managing director di envestor.de, yang mencatat adanya ketidaksesuaian antara kenaikan pasar Jerman dan kinerja saham yang masuk dalam rekomendasi MSCI.

Dradjad menyoroti struktur indeks MSCI yang didominasi saham Amerika Serikat dengan bobot sekitar 70 persen dan saham teknologi sekitar 30 persen. Menurutnya, ketergantungan berlebihan pada pasar AS membuat indeks tersebut kurang representatif terhadap dinamika pasar negara berkembang seperti Indonesia. Dengan demikian, return indeks MSCI secara keseluruhan cenderung lebih rendah dibandingkan dengan indeks yang lebih beragam atau spesifik wilayah.

Ia menekankan bahwa keputusan investasi harus berdasarkan analisis mendalam, bukan sekadar mengikuti penilaian lembaga internasional. Dengan demikian, pasar modal Indonesia perlu membangun kapasitas analitis internal yang kuat agar tidak terlalu bergantung pada klasifikasi eksternal yang bisa jadi tidak selalu selaras dengan kondisi domestik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya