Dradjad Soroti Keterbatasan Reputasi MSCI dalam Penilaian Pasar
Wakil Menteri Koordinator Perekonomian menegaskan bahwa meski MSCI dikenal berreputasi tinggi, penilaian mereka tidak selalu akurat atau menguntungkan investor, terutama dalam konteks klasifikasi pasar Indonesia.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 09.23 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 128x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menegaskan bahwa keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) dalam konsultasi penurunan status Indonesia dari pasar berkembang ke pasar mandiri tidak serta-merta menjadi acuan mutlak bagi kebijakan dan keputusan pasar modal dalam negeri. Ia menekankan pentingnya independensi analisis, menyerukan pelaku pasar untuk tidak langsung bereaksi emosional terhadap perubahan klasifikasi tersebut.
Menurut Dradjad, meski MSCI memiliki reputasi tinggi di dunia keuangan global, hal itu tidak menjamin kebenaran atau keunggulan setiap hasil penilaian yang dikeluarkan. Ia menyampaikan bahwa ada bukti empiris yang menunjukkan bahwa rekomendasi indeks MSCI tidak selalu mencerminkan performa pasar yang optimal. Salah satunya adalah dari analisis yang dilakukan oleh Ali Masarwah, seorang fund analyst dan managing director di envestor.de, yang mencatat adanya ketidaksesuaian antara kenaikan pasar Jerman dan kinerja saham yang masuk dalam rekomendasi MSCI.
Dradjad menyoroti struktur indeks MSCI yang didominasi saham Amerika Serikat dengan bobot sekitar 70 persen dan saham teknologi sekitar 30 persen. Menurutnya, ketergantungan berlebihan pada pasar AS membuat indeks tersebut kurang representatif terhadap dinamika pasar negara berkembang seperti Indonesia. Dengan demikian, return indeks MSCI secara keseluruhan cenderung lebih rendah dibandingkan dengan indeks yang lebih beragam atau spesifik wilayah.
Ia menekankan bahwa keputusan investasi harus berdasarkan analisis mendalam, bukan sekadar mengikuti penilaian lembaga internasional. Dengan demikian, pasar modal Indonesia perlu membangun kapasitas analitis internal yang kuat agar tidak terlalu bergantung pada klasifikasi eksternal yang bisa jadi tidak selalu selaras dengan kondisi domestik.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Gubernur Kalteng Tanam Pohon di Lokasi Karhutla Tumbang Nusa
Gubernur Kalteng lakukan penanaman pohon di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan sebagai bagian dari rehabilitasi lingkungan dan ajakan bersama jaga kelestarian alam.
24 Oktober 2026

Menteri Tinjau Langsung BSPS di Jakarta Barat
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman meninjau program BSPS di Cengkareng untuk memastikan bantuan bedah rumah sampai tepat sasaran kepada masyarakat berpenghasilan rendah.
24 Oktober 2026

Pemerintah dan Pertamina Percepat Siap Operasional Kilang RDMP Balikpapan
Pemerintah dan Pertamina memastikan kesiapan operasional Kilang RDMP Balikpapan dengan progres 99 persen, demi menjaga keandalan pasokan energi nasional.
24 Oktober 2026

Pemerintah Perkuat Rantai Pasok Pangan Hadapi Tantangan Iklim
Menteri Pertanian menekankan perlunya perbaikan rantai pasok pangan untuk mengatasi disparitas harga antara peternak dan konsumen di tengah ancaman iklim ekstrem.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

D-8 Dorong Perdamaian Melalui Diplomasi dan Kolaborasi Ekonomi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

Madrasah Harus Jadi Ruang Belajar Inklusif dan Aman Digital
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

PLTS Terapung di Waduk Tembesi Capai 74 Persen Progres
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

OJK Sultra Dorong Inklusi Keuangan Lewat BIK 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA
Sulut Juara Umum Kejurnas Pacuan Kuda 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.23 WITA

7 Kebiasaan Sederhana untuk Hidup Lebih Bahagia
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.21 WITA

Makan Sebelum dan Sesudah Olahraga, Kunci Optimalisasi Performa Tubuh
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.20 WITA

Monako Ungguli Dunia sebagai Tempat Tinggal Terbaik 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.11 WITA

