Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Dry Ice Jadi Uji Coba Baru Atasi Asap Karhutla

BRIN menilai penggunaan dry ice untuk melemahkan lapisan inversi sebagai upaya menurunkan konsentrasi asap akibat kebakaran hutan, dengan evaluasi berbasis data atmosfer.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 19 Oktober 2026, 15.21 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 25x dibuka
Dry Ice Jadi Uji Coba Baru Atasi Asap Karhutla📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kini menguji pendekatan inovatif dalam penanganan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui penyemaian dry ice, atau es kering, di wilayah terdampak. Teknologi ini dikembangkan untuk mengatasi tantangan utama yang menghambat penurunan hujan: kondisi atmosfer stabil akibat fenomena inversi suhu. Dalam kondisi tersebut, lapisan udara hangat berada di atas udara dingin, menghambat pergerakan vertikal udara dan menyebabkan asap menumpuk di permukaan tanah.

Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, melalui Perekayasa Utama Florentinus Heru Widodo, menjelaskan bahwa dry ice memiliki suhu ekstrem sekitar minus 78,5 derajat Celsius. Saat dilepaskan ke atmosfer, bahan ini langsung mengalami sublimasi, berubah dari padat menjadi gas sambil menyerap panas dari lingkungan. Proses ini menciptakan pendinginan lokal yang diharapkan bisa memengaruhi stabilitas lapisan inversi, mendorong pergerakan udara vertikal, dan membuka peluang bagi awan hujan untuk terbentuk.

Namun, BRIN menegaskan bahwa hasilnya masih dalam tahap pengujian ilmiah. Mekanisme pendinginan lokal belum tentu cukup untuk mengubah kondisi atmosfer secara signifikan, terutama jika lapisan inversi memiliki cakupan luas dan kestabilan tinggi. Kegagalan dalam melemahkan lapisan ini berarti asap tetap terperangkap di dekat permukaan, tanpa dampak nyata terhadap perbaikan kualitas udara. Oleh karena itu, keberhasilan teknologi ini tidak bisa diukur dari asumsi konseptual semata.

Evaluasi dilakukan secara sistematis dengan memanfaatkan data atmosfer yang dikumpulkan sebelum, selama, dan sesudah penyemaian. Data tersebut meliputi profil suhu vertikal, kelembapan, ketinggian dan ketebalan lapisan inversi, serta parameter kestabilan udara. Pengamatan dilakukan melalui radiosonde dan data suhu dari penerbangan, yang membantu mengidentifikasi lokasi dan intensitas inversi. Hasil pengamatan ini menjadi dasar analisis untuk menilai apakah ada perubahan signifikan dalam struktur atmosfer.

BRIN menekankan bahwa efektivitas modifikasi cuaca sangat bergantung pada kondisi atmosfer saat pelaksanaan. Tanpa data observasi yang akurat dan konsisten, sulit menilai dampak nyata dari penggunaan dry ice. Pendekatan ini bukan solusi instan, tetapi bagian dari upaya ilmiah terus-menerus untuk mencari cara mempercepat penurunan hujan di wilayah terdampak karhutla, terutama saat kondisi cuaca ekstrem menghambat intervensi konvensional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya