Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Ekspor Produk Unggulan ke Asia Pasifik Dukung Melalui ASEAN Plus

Kementerian Perdagangan dorong pelaku usaha manfaatkan perjanjian dagang ASEAN Plus untuk perluas pasar ekspor produk farmasi, makanan olahan, dan seafood ke negara mitra Asia Pasifik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 15.25 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 103x dibuka
Ekspor Produk Unggulan ke Asia Pasifik Dukung Melalui ASEAN Plus📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Kementerian Perdagangan kembali menekankan pentingnya pemanfaatan kerja sama perdagangan ASEAN Plus sebagai strategi utama dalam memperluas akses pasar ekspor produk unggulan nasional. Fokus utama diberikan pada tiga sektor strategis: farmasi, makanan olahan, dan boga bahari, yang memiliki potensi tinggi di pasar Asia Pasifik. Dengan berbagai skema perjanjian yang telah diimplementasikan, pelaku usaha diberi kesempatan memanfaatkan tarif preferensial guna meningkatkan daya saing produk secara global.

Dalam seminar yang digelar di Kabupaten Tangarang, Banten, sebagai bagian dari rangkaian Trade Expo Indonesia ke-41, Direktur Perundingan ASEAN menyampaikan bahwa delapan skema perjanjian perdagangan telah berjalan, termasuk RCEP sebagai mega perjanjian dan kerja sama dengan negara mitra dialog seperti Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang. Negara-negara tersebut menunjukkan nilai impor tinggi terhadap produk Indonesia, terutama Korea Selatan yang mencapai 36,7 miliar dolar AS, diikuti Australia 29,48 miliar dolar AS, dan Selandia Baru 2,39 miliar dolar AS.

Pemimpin sektor swasta menyoroti perlunya dukungan kebijakan yang mempermudah proses ekspor, termasuk pelatihan terstruktur, pendampingan bagi UMKM, serta pemenuhan standar internasional seperti sertifikasi keamanan pangan dan karantina. Wakil Ketua Bidang Perdagangan Apindo menekankan pentingnya penguatan jaringan informasi pasar, peran asosiasi, perwakilan diplomatik, dan manfaat dari jaringan diaspora Indonesia di luar negeri sebagai alat pendukung ekspor.

Di sisi lain, perwakilan perdagangan RI di Beijing menegaskan bahwa Tiongkok merupakan pasar kunci bagi produk Indonesia, khususnya seafood dan bahan baku obat tradisional. Namun, keberhasilan masuk pasar tersebut bergantung pada kepatuhan terhadap regulasi General Administration of Customs of China (GACC), termasuk persyaratan teknis dan pengawasan karantina. Produk yang tidak memenuhi standar tersebut, meski memiliki harga kompetitif, tetap tidak dapat masuk ke pasar Tiongkok.

Sektor makanan dan minuman tercatat tumbuh 6,77 persen pada semester pertama 2026 dengan kontribusi terhadap PDB industri pengolahan nonmigas mencapai 41,86 persen dan nilai ekspor mencapai 24 miliar dolar AS. Namun, tantangan seperti ketidakselarasan standar teknis, keterbatasan sistem pembayaran lintas negara, serta persaingan harga dan impor paralel tetap menjadi hambatan. Di sektor perikanan, keunggulan metode tangkap tradisional berkelanjutan perlu didukung perjanjian perdagangan bebas untuk mendorong ekspor bernilai tambah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya