Sabtu, 19 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Genangan Kuning Mirip Telur Ceplok di Kawah Anak Krakatau

Genangan berwarna kuning seperti telur ceplok muncul di kawah Gunung Anak Krakatau setelah erupsi besar mereda, disebabkan kontaminasi air dengan gas belerang dan material dinding kawah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 19 September 2026, 21.14 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 4x dibuka
Genangan Kuning Mirip Telur Ceplok di Kawah Anak Krakatau📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Setelah aktivitas erupsi besar pada 3 September 2026 mereda, muncul fenomena menarik di kawasan kawah Gunung Anak Krakatau, Lampung Selatan. Genangan air berwarna kuning pekat yang menyerupai kuning telur ceplok teramati di permukaan kawah, menarik perhatian warga dan pengamat. Fenomena ini terekam dalam video yang tersebar luas melalui media sosial, menampilkan kondisi kawasan yang kini relatif tenang dibandingkan masa puncak erupsi.

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Suwarno, menjelaskan bahwa fenomena tersebut merupakan hasil dari interaksi air dengan gas belerang yang keluar dari dalam tanah. “Itu adalah air yang terkontaminasi gas belerang dari dalam kawah, bukan sesuatu yang aneh atau abnormal,” ujarnya. Warna khas tersebut terbentuk karena campuran antara air permukaan dengan senyawa belerang dan material batuan dari dinding kawah yang tererosi.

Meski erupsi utama sudah berakhir, aktivitas vulkanik belum sepenuhnya berhenti. Pada dini hari 18 September, tercatat satu gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 12 milimeter dan durasi 5 detik, serta satu gempa tektonik jauh dengan amplitudo 8 milimeter dan durasi 72 detik. Selain itu, sistem pemantauan mencatat adanya tremor menerus (microtremor) dengan amplitudo antara 0,5 hingga 6 milimeter, dominan pada 2 milimeter.

Status Gunung Anak Krakatau saat ini tetap berada pada Level III atau Siaga, menandakan potensi aktivitas masih tinggi. Masyarakat dilarang mendekati area kawah dalam radius 3 kilometer sebagai tindakan pencegahan. Suwarno menegaskan bahwa fenomena seperti genangan kuning ini tidak selalu muncul di setiap gunung api, tetapi merupakan kekhasan yang bisa terjadi di lokasi dengan aktivitas belerang tinggi seperti Anak Krakatau.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya