Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

HMI di Ujung Pilihan: Bangsa atau Gerbong?

Kongres XXXIII HMI menjadi titik penting untuk menentukan apakah organisasi bergerak demi kepentingan bangsa atau terjebak dalam dinamika kekuasaan internal.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 22.20 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
HMI di Ujung Pilihan: Bangsa atau Gerbong?
Foto: MediaKendari

Kendari, ıNarasikita - Kongres XXXIII HMI bukan sekadar ajang pergantian kepemimpinan, melainkan momentum menentukan arah perjuangan organisasi dalam konteks kekinian. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa—dari ketimpangan ekonomi hingga transformasi digital—HMI dituntut untuk tidak hanya eksis dalam dinamika internal, tetapi hadir sebagai kekuatan intelektual yang mampu memberikan solusi nyata. Pertanyaan mendasar yang harus dijawab adalah: apakah HMI akan menjadi instrumen perjuangan rakyat, atau justru alat bagi kelompok tertentu untuk merebut kekuasaan?

Ketika energi kader terfokus pada konsolidasi, perhitungan suara, dan pembentukan gerbong, gagasan tentang masa depan HMI cenderung terpinggirkan. Jika kongres hanya menghasilkan pergantian nama tanpa perubahan orientasi, maka yang terjadi bukan regenerasi, melainkan sirkulasi kekuasaan yang tidak membawa perubahan substansial. Kaderisasi, independensi, dan kualitas intelektual HMI harus menjadi prioritas, bukan sekadar slogan yang dilafalkan saat kampanye.

Gerbong memang wajar dalam sistem demokrasi, tetapi tidak boleh menggantikan nilai-nilai perjuangan. Ketika loyalitas kepada figur mengalahkan loyalitas terhadap prinsip, ketika kepentingan kelompok menguasai kepentingan organisasi, maka HMI berisiko kehilangan esensi kaderisasi dan idealisme. Organisasi tidak boleh menjadi kuat secara politik internal, namun lemah ketika menghadapi persoalan nyata masyarakat. Di saat rakyat menunggu solusi, HMI justru sibuk menentukan siapa yang akan duduk di kursi ketua.

Bangsa tidak menunggu HMI selesai bertarung. Di tengah krisis pendidikan, pengangguran, korupsi, dan perubahan teknologi, HMI harus mampu menawarkan gagasan yang konkret, bukan sekadar suara yang hanya terdengar saat kongres. Idealisme tidak boleh dijadikan komoditas politik untuk memenangkan pertarungan. Kepemimpinan yang sejati bukan yang paling populer, melainkan yang paling berani membawa HMI keluar dari zona nyaman dan menjawab tantangan zaman dengan karya nyata.

HMI PROGRESIF bukan sekadar tagline, melainkan komitmen untuk membangun organisasi yang mampu menciptakan sejarah, bukan hanya membaca sejarah. Kepemimpinan yang dibutuhkan bukan yang paling kuat secara politik, tetapi yang paling berani menjaga marwah, membangun kader berkualitas, dan hadir dalam permasalahan rakyat. Saatnya memilih bukan hanya orang, tetapi arah: apakah HMI akan semakin dekat pada cita-cita perjuangan, atau justru menjauh karena terjebak dalam dinamika kekuasaan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya