Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Ibuku, Karya Eddie Cahyono Menang Penghargaan Khusus di Busan

Film Ibuku karya Eddie Cahyono meraih Special Jury Award di Busan International Film Festival 2026 dengan narasi kuat tentang perjuangan perempuan di bawah tekanan patriarki dan kemiskinan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 16 Oktober 2026, 21.06 WITA·👁 4 orang membaca· 0 hari ini · 131x dibuka
Ibuku, Karya Eddie Cahyono Menang Penghargaan Khusus di Busan📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Film Ibuku, karya sutradara Eddie Cahyono, berhasil membawa pulang penghargaan khusus dari juri pada Busan International Film Festival ke-31 yang berlangsung di Busan Cinema Center, Kamis (15/10). Kemenangan ini menjadi bukti kuat atas keberanian kreatif dalam mengangkat tema-tema sosial yang kompleks, khususnya penderitaan perempuan dalam konteks budaya patriarki dan krisis ekonomi keluarga. Penghargaan tersebut mengukuhkan posisi film ini sebagai salah satu karya terdepan dalam perbincangan sinema global tahun ini.

Latar cerita dibangun di Yogyakarta, kota asal sang sutradara, dengan fokus pada kehidupan Sumiati—perempuan tua yang diperankan dengan kedalaman emosional oleh Christine Hakim. Dari masa kejayaan sebagai penari Jatilan populer, Sumiati kini hidup sebatang kara setelah suaminya meninggal bunuh diri akibat utang judi. Beban finansial yang menumpuk memaksa ia mengambil keputusan ekstrem: menikahkan putrinya, Sri (Ayushita Nugraha), demi melunasi warisan sang suami. Namun, keputusan itu justru membawa bencana.

Sri, yang berangkat dari harapan untuk kehidupan baru, justru mengalami kekerasan dalam rumah tangga oleh menantunya yang pemabuk. Terpojok dan tak memiliki jalan keluar, ia memilih kabur ke luar negeri sebagai pekerja migran. Di tanah perantauan, nasibnya tak berubah—ia kembali menjadi korban kekerasan fisik dan psikologis oleh majikannya, hingga akhirnya nekat membunuh dan divonis hukuman mati. Kabar tragis itu tiba di telinga Sumiati, yang kemudian memutuskan untuk menemui putrinya secara langsung, melampaui semua rintangan sosial dan ketidakpedulian lingkungan.

Sinematografi Muhammad Firdaus memperkuat narasi melalui visual yang khas dan penuh simbolisme, sementara kolaborasi kreatif dengan produser Tika Bravani, Shin Yamaguchi, serta dukungan eksekutif Aris Nugraha dan Zunan Farid turut menentukan kualitas produksi film ini. Dengan jajaran akting yang menonjol, termasuk kehadiran Landung Simatupang, Ibuku menjadi representasi kuat dari ketahanan manusia di tengah kehancuran. Penayangan resmi di bioskop belum dipublikasikan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya