Selasa, 15 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Melemah 1,13% di Tengah Tekanan Sektor Energi dan Isu Global

Indeks Harga Saham Gabungan turun 73,54 poin menjadi 6.461,15 akibat tekanan dari sektor energi dan sentimen eksternal seperti ketegangan Timur Tengah serta prospek kebijakan moneter AS.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 15 September 2026, 19.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
IHSG Melemah 1,13% di Tengah Tekanan Sektor Energi dan Isu Global📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan hari Selasa (15/9/2026) dengan penurunan signifikan, mencatat penurunan 1,13% atau 73,54 poin ke level 6.461,15. Pergerakan indeks berlangsung volatil sepanjang sesi, dimulai dari level pembuka 6.544,77 dan sempat menyentuh puncak harian di 6.549,60 sebelum kemudian melemah tajam. Tekanan jual yang intens menyebabkan indeks menyentuh titik terendah harian di 6.461,01 sebelum akhirnya menutup sesi di bawah level 6.500.

Dari total saham yang diperdagangkan, jumlah saham yang turun sedikit lebih banyak dibanding yang naik, dengan 332 saham melemah, 330 saham menguat, dan 301 saham tidak mengalami perubahan harga. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat sekitar Rp11,261 triliun, dengan volume transaksi mencapai 25,60 miliar saham dan nilai transaksi senilai Rp12,67 triliun. Frekuensi perdagangan mencapai 1,756 juta kali, menunjukkan aktivitas pasar yang cukup tinggi meski bergerak dalam tekanan.

Sektor energi menjadi pemicu utama penurunan IHSG, turun 2,44%, diikuti oleh sektor keuangan yang melemah 1,56% dan sektor konsumer kritikal dengan penurunan 1,16%. Lima saham yang menjadi beban utama indeks antara lain SAPX, SMRA, RIGS, LAPD, dan CSMI. Sebaliknya, saham-saham seperti DEFI, CCSI, VOKS, ALKA, dan TRJA menjadi penopang koreksi, mampu menahan tekanan lebih dalam.

Pergerakan pasar juga dipengaruhi oleh sentimen domestik dan global. Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara menarik perhatian pasar, dengan investor menilai pentingnya konsistensi kebijakan fiskal di bawah kepemimpinan baru, termasuk komitmen menjaga defisit APBN di bawah 3% terhadap PDB. Di sisi global, eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama serangan Houthi terhadap Arab Saudi dan penutupan Selat Hormuz, memicu kenaikan harga minyak dunia. Kontrak WTI naik 1,24% menjadi US$102,65 per barel, sedangkan Brent menguat 1,18% ke US$106,93 per barel.

Di tengah ketegangan geopolitik, pasar juga menanti keputusan The Federal Reserve dalam rapat FOMC 15–16 September, dengan pasar memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Peluang kenaikan tersebut diperkirakan mencapai 92,4% berdasarkan CME FedWatch. Kenaikan suku bunga AS berpotensi memperkuat dolar AS dan menarik modal ke aset negara maju, menekan nilai tukar rupiah dan pasar keuangan domestik, sehingga memperkuat tekanan pada IHSG.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya