Jumat, 2 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Melemah Pekan Lalu, Prospek Pekan Ini Mixed

Indeks saham turun tipis pekan lalu, didukung penurunan volume dan nilai transaksi, sementara prospek minggu depan dipengaruhi kebijakan Fed dan rilis data makro.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 11.29 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
IHSG Melemah Pekan Lalu, Prospek Pekan Ini Mixed📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di level 6.518 pada Jumat (28/8), mengalami penurunan 3,62 poin atau 0,06 persen dibandingkan sebelumnya. Volume perdagangan mencapai 35,30 miliar saham dengan total nilai transaksi sebesar Rp15,15 triliun. Pada periode 24 hingga 28 Agustus 2026, pasar saham tercatat mengalami penutupan negatif selama tiga hari, meski sempat menguat pada satu hari lainnya. Secara keseluruhan, indeks menguat 0,25 persen dalam sepekan terakhir, menunjukkan pergerakan fluktuatif namun tetap berada dalam rentang konsolidasi.

Kapitalisasi pasar bursa mengalami penurunan sebesar 0,16 persen, turun dari Rp11.449 triliun menjadi Rp11.431 triliun. Rata-rata volume transaksi harian anjlok 28,33 persen, dari 50,30 miliar menjadi 36,05 miliar lembar saham. Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian turun 1,84 persen dari Rp15,57 triliun ke Rp15,29 triliun, dan frekuensi transaksi harian menurun 2,64 persen dari 2,21 juta menjadi 2,15 juta kali. Investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp482,24 miliar pada hari terakhir pekan tersebut, dengan akumulasi jual bersih tahunan mencapai Rp70,36 triliun hingga pertengahan Agustus 2026.

Analisis dari VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia menyebutkan IHSG diperkirakan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah pada awal pekan. Rentang pergerakan diproyeksikan antara support 6.430 dan resistance 6.606. Pemicu utama kecenderungan ini adalah nada hawkish The Federal Reserve yang masih dominan, terutama menyusul pernyataan Gubernur Fed Kevin Warsh bahwa inflasi inti AS belum menunjukkan pelambatan signifikan. Hal ini memperkuat ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi berlanjut, atau higher for longer, yang berdampak pada sentimen pasar global.

Pasar juga akan memantau rilis data inflasi Indonesia bulan Agustus 2026 yang diperkirakan tumbuh 2,86 persen secara tahunan, serta data PMI manufaktur yang diperkirakan tetap di zona ekspansif pada level 50,5. Kedua data ini dinilai akan direspons secara moderat, karena belum menunjukkan perubahan mendasar terhadap kondisi ekonomi domestik. Di sisi lain, investor akan memperhatikan proses rebalancing indeks MSCI yang mulai berlaku 1 September 2026, yang berpotensi memicu arus keluar dana dari pasar saham lokal.

Sejumlah emiten direkomendasikan berdasarkan analisis teknikal. PT Indika Energy Tbk (INDY) diproyeksikan mencapai level 2.960 dari posisi penutupan pekan lalu di 2.830. PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) yang naik 6,63 persen menjadi 965, diperkirakan bisa menembus 1.140. Sementara itu, MNC Sekuritas merekomendasikan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) ke level 1.520 dari 1.340, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) ke 7.650 dari 7.300, serta PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) ke 1.590 dari 1.465.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya