Tepung Olahan Berlebihan Picu Risiko Penyakit Kronis
Konsumsi berlebihan tepung olahan dan gorengan meningkatkan ancaman obesitas, diabetes, kanker, hingga gangguan mental, sesuai data kesehatan nasional.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 2 Oktober 2026, 23.23 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 ANTARAKendari, ıNarasikita - Gorengan yang kerap menjadi pilihan utama masyarakat dalam santapan sehari-hari kerap kali menyimpan risiko tersembunyi bagi kesehatan. Meski menawarkan rasa gurih dan tekstur renyah, makanan yang dilapisi tepung olahan justru menjadi pemicu berbagai gangguan metabolik jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan. Dampaknya tidak hanya terbatas pada peningkatan berat badan, tetapi juga memicu lonjakan risiko penyakit kronis yang berdampak jangka panjang pada organ vital.
Tepung olahan, khususnya jenis putih yang telah diproses secara intensif, dikenal mampu mengganggu keseimbangan gula darah dan kerja insulin. Ketika dikonsumsi terus-menerus, hal ini dapat menurunkan sensitivitas insulin, memicu resistensi metabolik, dan menjadi salah satu pemicu utama diabetes tipe 2. Studi menunjukkan bahwa individu yang sering mengonsumsi karbohidrat olahan memiliki risiko terkena sindrom metabolik hingga 41 persen lebih tinggi dibandingkan yang menjaga pola makan seimbang.
Selain gangguan metabolisme, konsumsi berlebihan tepung juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker tertentu, seperti kanker payudara, usus besar, dan endometrium. Faktor utamanya adalah kenaikan kadar insulin dan peradangan kronis yang terjadi akibat pola makan tidak sehat. Di sisi lain, perubahan hormon dan produksi minyak berlebihan pada kulit akibat gula darah naik tajam turut memperparah kondisi kulit, termasuk munculnya jerawat yang sulit diatasi.
Kondisi kesehatan mental juga tidak terhindar dari dampak negatif ini. Pola makan tinggi karbohidrat olahan dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi, diduga karena fluktuasi gula darah yang ekstrem dan peradangan sistemik. Selain itu, gangguan kognitif seperti kesulitan konsentrasi, penurunan daya ingat, bahkan peningkatan risiko Alzheimer dan Parkinson, juga menjadi ancaman serius bagi individu dengan kebiasaan makan tidak seimbang.
Pencegahan dimulai dari kesadaran akan sumber makanan yang dikonsumsi. Mengurangi asupan tepung olahan dan memilih alternatif seperti makanan kukus atau rebus dapat menjadi langkah strategis dalam menjaga kesehatan jangka panjang. Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya membatasi konsumsi gorengan dan memperhatikan bahan dasar yang digunakan, terutama dalam konteks gizi dan pencegahan penyakit tidak menular.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Kopi Lebih dari Sekadar Melebarkan Mata
Minum kopi rutin berdampak pada mikrobioma usus, risiko demensia, motilitas usus, respons genetik, dan kandungan kimia kompleks yang melampaui kafein.
2 Oktober 2026

Museum Makanan Ekstrem Hadir di Hong Kong, Ajak Penikmat Berani Cicipi Keunikan Budaya
Pameran Disgusting Food Museum resmi dibuka di Hong Kong dengan lebih dari 80 makanan dari 35 negara, menawarkan pengalaman sensorik intens dan refleksi budaya melalui hidangan yang kerap dianggap menjijikkan.
2 Oktober 2026

7 Makanan Pendorong Kesehatan Rambut dari Dalam
Konsumsi makanan bergizi secara teratur dapat menunjang pertumbuhan dan kekuatan rambut, serta mengurangi risiko kerontokan akibat kekurangan nutrisi.
2 Oktober 2026

Mayoritas Pilih Kopi Manis di Hari Kopi Global
Survei terhadap 3.745 responden menunjukkan 57 persen lebih menyukai kopi dengan tambahan gula, susu, atau sirup dibanding kopi hitam murni.
2 Oktober 2026
Berita Lainnya

Lelang Batik Karya Desainer Dorong Permodalan UMKM Perempuan
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.28 WITA

MA Setujui Permohonan Pemakzulan Bupati Gowa
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.28 WITA

Insentif SPPG Rp2.000 Harus Disertai Standar Mutu Ketat
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.28 WITA

ISF 2026 Tekankan Kolaborasi Global untuk Ekonomi Berkelanjutan
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.27 WITA

Anggota DPR Puji Kinerja Basarnas dalam Operasi SAR KM Virgo
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.27 WITA

Program Asuransi BMN Perluas Cakupan ke 20+ Kementerian
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.27 WITA

Indonesia Perkuat Kemitraan Ekonomi dengan Jerman 2026
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.27 WITA

Suyudi Ario Seto Resmi Jabat Kapolri, Mulai Era Baru Kepemimpinan
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.26 WITA

