Kamis, 10 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Melemah, Saham Penopang dan Proyek Strategis Jadi Sorotan

Indeks harga saham turun tipis ke level 6.678, didorong pelemahan sektor kesehatan dan aksi jual asing, sementara emiten seperti SSIA, JSMR, dan BMAS siapkan proyek besar dan aksi korporasi mendukung pertumbuhan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 10 September 2026, 11.32 WITA·👁 2 orang membaca· 2 hari ini · 4x dibuka
IHSG Melemah, Saham Penopang dan Proyek Strategis Jadi Sorotan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar 0,12% pada perdagangan Rabu (9/9/2026), berakhir di posisi 6.678,20. Gerakan negatif ini tercermin dari kinerja sejumlah emiten utama, dengan saham BBCA turun 2,25%, BMRI melemah 0,90%, dan ASII terkoreksi 1,62%. Di sisi lain, sejumlah saham mampu menunjukkan kekuatan, seperti AMMN yang naik 5,14%, IMPC melonjak 9,51%, dan AADI meningkat 5,96%. Investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp621,40 miliar di pasar reguler, dengan total penjualan bersih keseluruhan mencapai Rp438,52 miliar.

Dari 11 sektor yang diperdagangkan, enam sektor berakhir di zona merah, dengan sektor kesehatan menjadi yang paling terpuruk dengan penurunan 1,33%. Penurunan ini diduga terkait dengan penurunan momentum aksi ambil posisi setelah katalis erupsi Anak Krakatau mulai mereda. Sementara itu, sektor transportasi dan logistik menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 2,41%. Pergerakan bursa global juga berada di zona negatif, dengan Dow Jones turun 0,77%, S&P 500 melemah 0,48%, dan Nasdaq terkoreksi 0,64%. ETF EIDO dan indeks MSCI Indonesia juga mengalami koreksi masing-masing 0,68% dan 0,99%.

Di tengah fluktuasi pasar, beberapa emiten menunjukkan komitmen besar terhadap pengembangan jangka panjang. Surya Semesta Internusa (SSIA) menyiapkan belanja modal (capex) sebesar Rp2,20 triliun pada 2026, dengan sekitar Rp1,50 triliun diarahkan untuk akuisisi dan pengembangan lahan di kawasan Subang Smartpolitan. Sebanyak Rp330 miliar disiapkan untuk rebranding Paradisus by Meliá Bali, dengan realisasi hingga semester I-2026 mencapai Rp200 miliar. Meski merevisi target pendapatan tahun ini dari Rp7,50 triliun menjadi Rp7,20 triliun akibat penundaan penjualan dan pergeseran kontrak PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA), SSIA tetap mempertahankan target laba bersih Rp400 miliar, yang setara dengan pertumbuhan 570% dibanding tahun sebelumnya.

Jasa Marga (JSMR) juga mengalokasikan capex sebesar Rp12,00 triliun pada 2026, dengan realisasi hingga paruh pertama mencapai Rp4,40 triliun. Dana digunakan untuk mempercepat pembangunan lima proyek jalan tol, termasuk Jakarta-Cikampek II Selatan seksi Setu–Sadang, Akses Patimban, Jogja-Bawen, Jogja-Solo, dan Probolinggo-Banyuwangi. Proyek Tol Jogja-Bawen Seksi 6 Ambarawa–Bawen sepanjang 4,98 kilometer ditargetkan beroperasi pada November 2026, sementara Seksi 1 Yogyakarta–SS Banyurejo akan selesai konstruksinya akhir September 2026. Akses Patimban ditargetkan beroperasi pada 2028, sedangkan Tol Probolinggo-Banyuwangi Seksi Paiton–Besuki telah memasuki tahap Uji Laik Fungsi Operasi (ULFO) dan berpotensi beroperasi akhir 2026 atau awal 2027. Secara keseluruhan, JSMR menargetkan 62 kilometer ruas tol baru mulai beroperasi pada akhir 2026 hingga awal 2027.

Sementara itu, Bank Kasikorn Indonesia (BMAS) berencana melakukan penambahan modal melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dengan rasio 655:104. Aksi korporasi ini memungkinkan emiten menghimpun dana hingga Rp1,01 triliun dari penjualan maksimal 2,87 miliar saham baru, setara 13,70% dari modal ditempatkan dan disetor setelah aksi. Harga pelaksanaan ditetapkan sebesar Rp350 per saham, dengan dana yang dihimpun digunakan sebagai modal kerja untuk mendukung ekspansi penyaluran kredit. Pemegang saham utama, Kasikorn Vision Financial Company Pte. Ltd. (KVF), yang saat ini memiliki 86,03% saham, akan melaksanakan seluruh hak HMETD termasuk yang dialihkan dari Kasikornbank (KBANK), serta bertindak sebagai pembeli siaga. Dengan skema ini, kepemilikan KVF berpotensi meningkat menjadi 86,37% hingga 87,81%, sementara pemegang saham lama yang tidak menggunakan haknya

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya