Kamis, 10 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Malon Lam Diciduk Usai Curi Bitcoin Rp4,2 Triliun untuk Beli Mobil Mewah

Bocah Singapura Malone Lam ditangkap setelah mencuri Bitcoin senilai US$245 juta dan menghabiskannya untuk mobil mewah, hiburan mewah, serta penyewaan jet pribadi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 10 September 2026, 15.45 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Malon Lam Diciduk Usai Curi Bitcoin Rp4,2 Triliun untuk Beli Mobil Mewah📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Seorang remaja asal Singapura, Malone Lam, kini menjadi tersangka utama dalam kasus pencurian aset kripto senilai US$245 juta atau setara Rp4,2 triliun di Amerika Serikat. Ia diduga memimpin jaringan kriminal internasional yang mengincar korban melalui manipulasi data, penipuan digital, dan eksploitasi kelemahan sistem keamanan siber. Dari hasil curian tersebut, Lam dan rekan-rekannya mengalokasikan sebagian besar dana untuk membeli sejumlah kendaraan mewah, termasuk Rolls-Royce, Lamborghini, Ferrari, dan mobil sport Pagani.

Pengeluaran besar-besaran terjadi dalam waktu singkat, termasuk pengeluaran mencapai US$500 ribu dalam satu malam untuk aktivitas di klub malam mewah. Selain mobil, dana hasil pencurian juga digunakan untuk menyewa jet pribadi dan membeli barang-barang mewah lainnya. Total ada 28 unit kendaraan mewah yang tercatat dalam kasus ini, dengan nilai jual berkisar antara US$100 ribu hingga US$3,8 juta (Rp10 miliar hingga Rp66 miliar).

Dalam sidang di Pengadilan Distrik Columbia, Lam mengakui bersalah atas tuduhan konspirasi pemerasan dan pencurian aset digital. Ia kini menghadapi ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. Jaksa AS Jeanine Pirro menegaskan bahwa pihaknya akan terus melacak dan menindak tegas pelaku kejahatan siber, terlepas dari usia atau lokasi pelaku. Menurutnya, kejahatan digital yang merusak keamanan siber dan kekayaan individu akan diperangi secara tegas.

Lam menggunakan identitas samaran seperti Anne Hathaway, $$$, dan King Greavy untuk menyembunyikan identitasnya saat menjalankan operasi. Ia memanfaatkan keahlian teknis dalam perangkat lunak dan komputer untuk mengakses data sensitif korban, termasuk informasi keuangan dan identitas pribadi. Dalam prosesnya, ia bahkan melakukan pembobolan rumah demi memperoleh akses lebih dalam ke sistem keamanan digital korban. Aksi ini menunjukkan kompleksitas dan tingkat kejahatan siber yang kini semakin terorganisir dan berdampak global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya