Kamis, 10 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Perlindungan Anak Saat Paparan Abu Vulkanik dari Anak Krakatau

Orang tua diminta meningkatkan proteksi anak dari abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau melalui tindakan preventif dan penanganan dini gejala pernapasan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 10 September 2026, 15.49 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Perlindungan Anak Saat Paparan Abu Vulkanik dari Anak Krakatau📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Paparan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi ancaman serius terhadap kesehatan anak, terutama sistem pernapasan. Partikel halus yang terbawa angin dapat menyebabkan iritasi saluran napas, memicu batuk, pilek, dan sesak napas. Anak-anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis berisiko lebih tinggi mengalami eksaserbasi akut jika terpapar material vulkanik ini.

Langkah utama untuk melindungi anak adalah memastikan mereka tetap berada di dalam ruangan tertutup. Pintu, jendela, dan celah harus ditutup rapat untuk mencegah masuknya abu. Sistem pendingin udara sebaiknya dimatikan atau diatur dalam mode recirculation, sementara penggunaan kipas angin dihindari karena dapat mengangkat abu yang sudah mengendap.

Jika anak harus keluar rumah, penggunaan masker khusus anak yang pas dan terpasang dengan benar menjadi wajib. Anak dengan kondisi medis khusus harus tetap dibekali obat rutin atau obat bantuan sesuai resep dokter. Selain itu, orang tua perlu menghindarkan anak dari paparan polusi dalam ruangan seperti asap rokok dan asap dapur yang dapat memperparah iritasi saluran napas.

Perlindungan juga diperlukan untuk mata dan kulit. Pakaian menutupi tubuh dan kacamata anak harus dipakai saat di luar ruangan. Jika abu masuk ke mata, segera bilas dengan air bersih mengalir tanpa mengucek. Setelah kembali dari luar, anak harus segera dimandikan dan berganti pakaian untuk menghilangkan sisa abu yang menempel. Pembersihan rumah harus dilakukan dengan kain basah atau disiram, bukan menyapu kering, agar partikel tidak beterbangan.

Orang tua harus waspada terhadap gejala pernapasan yang memburuk, seperti napas cepat, tarikan dinding dada, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan jika terjadi batuk atau sesak yang tidak kunjung mereda. Selain aspek fisik, kesehatan mental juga perlu diperhatikan dengan menjelaskan situasi secara sesuai usia, mendukung emosional, dan membatasi paparan konten bencana yang bisa memicu kecemasan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya