Kamis, 10 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melesat ke Level Terkuat 17 Pekan Terakhir

Rupiah menguat tipis ke Rp17.495 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis, menunjukkan kembali kekuatan setelah melesat 0,71% pada hari sebelumnya.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 10 September 2026, 11.31 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 4x dibuka
Rupiah Melesat ke Level Terkuat 17 Pekan Terakhir📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada perdagangan pagi ini, mencatatkan posisi Rp17.495 per dolar AS, mengalami appreciasi sebesar 0,03% dibandingkan penutupan sebelumnya. Penguatan ini melanjutkan kenaikan signifikan dari sesi sebelumnya, ketika rupiah menutup perdagangan dengan keunggulan 0,71% ke level Rp17.500/US$. Pergerakan hari ini menandai kembali posisi mata uang lokal di sekitar level terkuatnya sejak 15 Mei 2026, atau hampir 17 pekan terakhir.

Pelemahan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, terutama yen Jepang, turut mendukung penguatan rupiah. Indeks dolar AS (DXY) turun tipis 0,03% menjadi 98,784 pada pukul 09.00 WIB. Ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BOJ) dalam pertemuan pekan depan mendorong penguatan yen sekitar 4% sepanjang bulan September, yang pada gilirannya menekan kekuatan greenback secara global.

Namun, tekanan terhadap rupiah tetap ada dari kenaikan harga minyak dunia. Ketegangan di Timur Tengah, termasuk serangan kelompok Houthi ke Arab Saudi dan respons militer AS terhadap kapal tanker Iran, memicu lonjakan harga minyak Brent sebesar 3,36% ke level US$101,21 per barel—posisi tertinggi sejak Mei 2026. Sebagai negara pengimpor minyak, kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan permintaan dolar AS untuk membiayai impor, sehingga menimbulkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Di sisi domestik, pasar menanti rilis data penjualan eceran Indonesia bulan Juli 2026 oleh Bank Indonesia. Pada Juni, kontraksi penjualan eceran telah membaik dibandingkan penurunan 3,9% di Mei, dengan peningkatan pada sektor pakaian, perlengkapan rumah tangga, dan suku cadang kendaraan. Namun, sektor makanan, minuman, tembakau, perangkat komunikasi, barang rekreasi, dan bahan bakar masih mengalami penurunan. Data ini dinilai penting sebagai indikator awal pemulihan daya beli konsumen, yang sebelumnya tercermin dari kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen ke level 118,5 pada Agustus.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya