Kamis, 10 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Plastik Sampah Jadi BBM Terbarukan, Nilai Cetane Lebih Tinggi dari Biosolar

Pemerintah mengembangkan BBM terbarukan dari plastik melalui pirolisis, dengan kualitas mencapai cetane number di atas 51 dan potensi komersialisasi melalui skema B2B.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 10 September 2026, 11.33 WITA·👁 2 orang membaca· 2 hari ini · 6x dibuka
Plastik Sampah Jadi BBM Terbarukan, Nilai Cetane Lebih Tinggi dari Biosolar📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah Indonesia kini mempercepat pengembangan energi terbarukan dengan mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak melalui teknologi pirolisis. Proses ini tidak hanya menangani persoalan lingkungan, tetapi juga menghasilkan produk energi bernilai tinggi yang dapat digunakan sebagai pengganti solar konvensional. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM menegaskan bahwa limbah plastik, terutama yang berupa kemasan kotor dan multilapis, bisa diolah menjadi bahan bakar bernilai kalor tinggi, bahkan mampu menghasilkan listrik sebagai turunan prosesnya.

Hasil pengolahan dari plastik melalui pirolisis telah mencatatkan nilai cetane number (CN) di atas 51, melebihi standar biosolar yang biasanya berkisar di angka 48–50. Nilai ini menunjukkan kualitas pembakaran yang lebih baik dan efisiensi mesin yang meningkat. Pemerintah saat ini sedang menyusun regulasi terkait spesifikasi dan izin usaha untuk produk tersebut, dengan klasifikasi usaha terdaftar dalam KBLI 38211. Setelah verifikasi dan penetapan aturan, pelaku usaha diperbolehkan menjual produk secara komersial dengan skema bisnis ke bisnis (B2B).

Teknologi yang digunakan adalah pirolisis multikondensor yang dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Teknologi ini mampu mengolah sampah plastik bernilai ekonomi rendah—seperti kantong plastik tipis, sachet, dan residu kotor—tanpa memerlukan pemilahan ekstensif. Dengan pemanasan tanpa oksigen pada suhu 250–350 derajat Celsius selama sekitar delapan jam, polimer dalam plastik dipecah menjadi hidrokarbon cair yang disebut Petasol. Setiap kilogram sampah plastik menghasilkan rata-rata 0,8 liter, bahkan hingga 1 liter, tanpa proses distilasi ulang.

Petasol telah teruji secara teknis dan telah digunakan di berbagai sektor, termasuk kendaraan diesel, perahu nelayan, dan alat pertanian, dengan penggunaan lebih dari empat tahun tanpa masalah signifikan. Kualitasnya telah memenuhi standar Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Nomor 146/2020. Biaya produksi sangat rendah, berkisar Rp5.000–6.160 per liter dengan bahan baku plastik Rp1.800 per kilogram. Jika menggunakan bahan baku dari bank sampah seharga Rp200 per kilogram, biaya turun menjadi Rp4.000–5.000 per liter.

Saat ini, Petasol dijual dengan harga Rp10.000 per liter, memberikan keuntungan bersih Rp4.000–5.000 per liter. Dengan kapasitas produksi 100 kilogram per hari, keuntungan bersih mencapai sekitar Rp8,6 juta per bulan, dan titik impas tercapai dalam waktu sekitar 2,5 tahun. Teknologi ini telah direplikasi di lebih dari 60 lokasi di Indonesia, termasuk Cimahi, Yogyakarta, dan Semarang, dengan dukungan dari dinas lingkungan hidup dan bank sampah lokal.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya