Jumat, 9 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Melonjak 1,04% ke Level 6.093 Jelang Akhir Pekan

Indeks Harga Saham Gabungan naik 1,04% menjadi 6.093,76 pada penutupan perdagangan Jumat (9/10/2026), didorong penguatan sektor industri dan material dasar.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 9 Oktober 2026, 17.32 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
IHSG Melonjak 1,04% ke Level 6.093 Jelang Akhir Pekan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada akhir pekan dengan mencatat level 6.093,76, naik 62,47 poin atau 1,04% dari posisi sebelumnya. Pergerakan indeks menunjukkan pergerakan fluktuatif sepanjang hari, dimulai dari pembukaan di 6.039,01, kemudian sempat menyentuh titik terendah di 5.995,82 sebelum berbalik menguat dan mencapai puncak harian di 6.100,58 sebelum akhirnya stabil di dekat level tertinggi. Kenaikan ini tercermin dari aktivitas perdagangan yang cukup tinggi, dengan volume transaksi mencapai 353,12 juta lot saham dan nilai transaksi mencapai Rp8,44 triliun.

Penguatan IHSG didukung oleh dominasi saham yang menguat, di mana 407 emiten berhasil meraih kenaikan harga, sementara 245 saham melemah dan 311 lainnya stagnan. Sejumlah sektor menjadi pendorong utama, terutama industri yang melonjak 2,1%, disusul material dasar dengan kenaikan 1,7% dan konsumer non kritikal yang naik 1%. Di antara saham-saham penguat utama, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Amman Mineral Internasional (AMMN), PT Telkom Indonesia (TLKM), PT Bank Central Asia (BBCA), dan PT Bank Mandiri (BMRI) menjadi penopang utama indeks.

Di sisi lain, saham-saham yang menekan indeks antara lain PT Bayan Resources (BYAN), PT Golden Energy Mines (GEMS), PT Timah (TINS), PT Sumber Alfaria Trijaya (AMRT), dan PT Energi Mega Persada (ENRG). Sentimen pasar dipengaruhi oleh berbagai faktor global dan domestik, termasuk perkembangan konsumsi dalam negeri, data klaim pengangguran AS yang lebih rendah dari perkiraan, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Penundaan serangan AS terhadap Iran oleh Presiden Donald Trump sebelum pemilu paruh waktu 3 November 2026 turut memengaruhi harga minyak, yang sempat melonjak hingga US$104 per barel.

Di dalam negeri, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bulan September turun tipis menjadi 118,1 dari 118,5 pada Agustus, menunjukkan optimisme konsumen tetap tinggi meski ada perlambatan kecil. Sementara itu, risalah rapat Bank Sentral Eropa (ECB) menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi yang masih berpotensi meningkat, dengan pertimbangan terhadap ketegangan geopolitik dan keterbatasan pasokan energi. IMF pun memperingatkan harga energi bisa tetap tinggi hingga 2027, meskipun konflik di Teluk berakhir, akibat gangguan distribusi dan keterbatasan kapasitas penyulingan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya