Jumat, 9 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Melonjak 1% di Akhir Pekan, Didorong Sektor Industri dan Sentimen Global

Indeks Harga Saham Gabungan naik 1,02% ke level 6.092,50 pada Jumat (9/10/2026), didorong kenaikan sektor industri dan keyakinan pasar terhadap stabilitas ekonomi global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 9 Oktober 2026, 17.32 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 6x dibuka
IHSG Melonjak 1% di Akhir Pekan, Didorong Sektor Industri dan Sentimen Global📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup sesi perdagangan siang hari pada Jumat (9/10/2026) dengan kenaikan signifikan, mencapai level 6.092,50, meningkat 61,22 poin atau 1,02% dari posisi sebelumnya. Penguatan ini terjadi di tengah aktivitas pasar yang cukup tinggi, dengan volume transaksi mencapai 303,55 juta lot saham dan nilai transaksi mencapai Rp6,85 triliun. Kenaikan IHSG tercermin dari kinerja sejumlah sektor utama, terutama industri yang mampu melonjak 2,03%, disusul material dasar (1,8%) dan infrastruktur (1,3%).

Penguatan indeks didukung oleh kenaikan harga saham emiten unggulan seperti Bank Central Asia (BBCA), Amman Mineral Internasional (AMMN), Telkom Indonesia (TLKM), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Mora Telematika Indonesia (MORA). Di sisi lain, beberapa emiten turut menjadi penekan, termasuk Bayan Resources (BYAN), GoTo Gojek Tokopedia (GOTO), Golden Energy Mines (GEMS), Energi Mega Persada (ENRG), dan Maha Properti Indonesia (MPRO). Kinerja saham ini mencerminkan pergerakan yang terfragmentasi, namun secara keseluruhan pasar tetap berada di zona positif.

Sentimen pasar pada hari ini dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan domestik. Di tingkat global, kekhawatiran terhadap eskalasi ketegangan Timur Tengah menurun setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan melakukan serangan terhadap Iran sebelum pemilihan paruh waktu 3 November 2026. Meski demikian, blokade laut terhadap Iran tetap berlaku, dan Teheran dilarang mengembangkan senjata nuklir. Kondisi ini menekan harga minyak Brent yang sempat melonjak di atas 4% hingga menyentuh US$104 per barel, namun kembali stabil di kisaran US$100 per barel.

Di dalam negeri, data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia pada September tercatat 118,1, sedikit turun dari 118,5 di Agustus. Meski demikian, angka ini tetap berada di atas ambang 100, menunjukkan optimisme konsumen secara umum. Sementara itu, risalah rapat Bank Sentral Eropa (ECB) menunjukkan pembuat kebijakan tetap waspada terhadap risiko inflasi yang cenderung meningkat, terutama akibat ketegangan geopolitik seperti konflik Rusia-Ukraina dan ketegangan AS-Iran. ECB mempertahankan suku bunga utama di level 2,50% untuk deposito dan 2,65% untuk operasi pembiayaan utama, tanpa memberikan sinyal pasti mengenai kebijakan moneter selanjutnya.

Dalam konteks global, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menegaskan bahwa harga energi diperkirakan tetap tinggi hingga 2027, meskipun konflik di Teluk berakhir. Faktor utama yang menyokong tekanan harga meliputi terbatasnya kapasitas penyulingan, gangguan pasokan gas alam melalui Selat Hormuz, serta biaya transportasi yang tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi global masih menghadapi tantangan struktural, yang berdampak pada imbal hasil obligasi dan keputusan investasi di pasar berisiko.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya