Senin, 26 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Menguat di Awal Perdagangan, Dipimpin Sentimen Dalam dan Luar Negeri

Indeks Harga Saham Gabungan dibuka naik 0,46% ke level 6.555, didorong penguatan domestik dan ketegangan geopolitik global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 10.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
IHSG Menguat di Awal Perdagangan, Dipimpin Sentimen Dalam dan Luar Negeri📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak positif pada awal perdagangan hari ini, Selasa (1/9/2026), dengan pembukaan di level 6.555,61, naik 30,13 poin atau 0,46% dibandingkan penutupan sebelumnya. Pergerakan ini terjadi pada pukul 09:00 WIB, dengan rentang harian berada di kisaran 6.535,80 hingga 6.555,64. Sebanyak 353 saham menguat, 88 saham melemah, dan 522 saham lainnya stagnan. Nilai transaksi awal mencapai Rp398,9 miliar, dengan volume perdagangan sebesar 648,9 juta saham dan frekuensi transaksi sebanyak 55.870 kali.

Penguatan indeks terjadi setelah sebelumnya ditutup menguat tipis 0,11% pada Senin (31/8/2026) di level 6.525,48. Secara bulanan, IHSG mencatat kenaikan 4,64% pada Agustus 2026, menunjukkan tren positif dalam sebulan terakhir. Namun, pergerakan pasar tetap sensitif terhadap berbagai sentimen, baik dari dalam negeri maupun global. Di antaranya adalah rilis data ekonomi domestik seperti inflasi Agustus, PMI manufaktur, serta neraca perdagangan Juli 2026, yang menjadi fokus investor.

Di kancah global, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran pasar. Ancaman serangan kembali dari Presiden AS Donald Trump memperburuk prospek stabilitas di Selat Hormuz, jalur kunci perdagangan minyak dan gas dunia. Akibatnya, harga minyak dunia kembali mendekati level US$90 per barel, yang berpotensi mendorong inflasi global. Hal ini turut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun naik ke 4,76%, level tertinggi sejak Januari 2025, yang mengurangi daya tarik aset berisiko seperti saham.

Di dalam negeri, pasar menanti rilis data inflasi Agustus 2026 dari Badan Pusat Statistik (BPS). Konsensus dari 13 institusi memperkirakan inflasi bulanan sebesar 0,17% dan inflasi tahunan 3,11%, berbalik dari deflasi 0,14% pada Juli. Peningkatan harga pangan, emas, dan biaya pendidikan diperkirakan menjadi pendorong utama, sementara penurunan tarif pesawat dan harga BBM non-subsidi berpotensi menahan kenaikan. Selain itu, pasar juga mengamati neraca perdagangan Juli 2026, setelah defisit US$450 juta pada Juni akibat impor yang lebih tinggi daripada ekspor.

Pemerintah juga meluncurkan kebijakan baru terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE) sektor pertambangan, dengan relaksasi aturan yang memungkinkan eksportir menempatkan 30% DHE selama minimal tiga bulan, lebih fleksibel dibandingkan ketentuan sebelumnya yang mewajibkan 100% selama 12 bulan. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) mulai menerapkan skema baru Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM), memberikan insentif 2% untuk pendalaman pasar uang dan 4% untuk pembiayaan sektor produktif, sebagai upaya mendukung pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan likuiditas dan kredit produktif.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya