Sabtu, 3 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Imbal Hasil Obligasi RI Tetap Menarik di Tengah Kenaikan Yield AS

Obligasi pemerintah Indonesia masih menawarkan imbal hasil kompetitif dibandingkan surat utang negara maju meski yield AS mencapai level tertinggi sejak 2004.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 3 Oktober 2026, 12.01 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 2x dibuka
Imbal Hasil Obligasi RI Tetap Menarik di Tengah Kenaikan Yield AS📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 30 tahun melonjak ke angka 5,48 persen pada pertengahan September 2026, mencatat rekor tertinggi sejak 2004. Kenaikan ini didorong oleh kekhawatiran terhadap inflasi yang masih tinggi, pertumbuhan ekonomi global yang menunjukkan ketidakpastian, serta peningkatan belanja pemerintah AS. Dampaknya, pasar obligasi negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi sorotan investor yang mencari peluang imbal hasil lebih menarik. Di tengah kondisi tersebut, obligasi Indonesia tetap menjadi pilihan menarik bagi para pemodal yang mempertimbangkan keseimbangan antara return dan risiko.

Menurut Andi Nugroho, perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi, obligasi RI masih menawarkan yield yang kompetitif, berada di kisaran 7 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan obligasi AS yang sekitar 5,29 persen dan obligasi Jepang yang hanya 3,08 persen. Ia menekankan bahwa meskipun yield AS naik, obligasi Indonesia tetap mampu bersaing karena tingkat imbal hasil yang lebih menguntungkan. Investasi dalam instrumen ini dinilai paling sesuai untuk investor konservatif hingga moderat, dengan rekomendasi alokasi antara 30 persen hingga 50 persen dari total portofolio, sementara investor agresif bisa mengalokasikan 20 persen hingga 30 persen.

Mike Rini Sutikno, perencana keuangan lainnya, menyoroti selisih imbal hasil antara obligasi RI dan obligasi negara maju sebagai daya tarik utama. Ia menilai bahwa kondisi ini mendorong aliran dana ke pasar berkembang melalui fenomena *flight to yield*. Ia menekankan bahwa meskipun yield tinggi, investor harus memperhatikan risiko, termasuk arah kebijakan The Fed, yang dapat memengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang. Menurutnya, obligasi RI tetap menarik terutama bagi investor dengan risiko menengah hingga tinggi dan horizon investasi jangka panjang.

Untuk memastikan keberhasilan investasi, Mike menyarankan pendekatan bertahap dalam pembelian, termasuk strategi *dollar cost averaging*, serta diversifikasi tenor dan sektor. Ia menyarankan investor konservatif fokus pada obligasi pemerintah tenor menengah (3–5 tahun) untuk menyeimbangkan yield dan volatilitas. Investor moderat dapat memasukkan obligasi korporasi berperingkat investment grade, sementara investor agresif boleh mempertimbangkan obligasi berisiko lebih tinggi. Pemilihan produk harus didasarkan pada peringkat kredit, likuiditas, jatuh tempo, dan informasi dari prospektus atau *fact sheet*.

Penting bagi investor, terutama pemula, untuk memahami dasar-dasar obligasi seperti kupon, yield, jatuh tempo, dan durasi sebelum memulai. Dana yang digunakan harus merupakan uang dingin, bukan dana darurat. Transaksi dapat dilakukan melalui platform terdaftar dan diawasi OJK. Setelah pembelian, pemantauan terhadap kondisi penerbit dan pasar menjadi kunci. Jika obligasi ditahan hingga jatuh tempo, pokok akan dikembalikan sesuai ketentuan. Namun, jika dijual sebelum jatuh tempo, investor harus memperhitungkan fluktuasi harga pasar yang dapat menimbulkan keuntungan atau kerugian.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya