Jumat, 11 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Indonesia Dorong Kemandirian Teknologi Logam Tanah Jarang

Indonesia berupaya membangun kedaulatan teknologi logam tanah jarang melalui kolaborasi riset dan percepatan skala produksi, menghadapi dominasi global atas rantai pasok dan inovasi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 10 September 2026, 22.37 WITA·👁 5 orang membaca· 4 hari ini · 11x dibuka
Indonesia Dorong Kemandirian Teknologi Logam Tanah Jarang📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kemajuan global dalam pengembangan teknologi logam tanah jarang (LTJ) kini berfokus pada penguasaan sistem dan proses, bukan sekadar cadangan mineral. Badan Industri Mineral (BIM) menegaskan bahwa sejumlah negara telah mengunci akses terhadap teknologi pemisahan 17 unsur LTJ, yang memiliki karakteristik kimia sangat mirip sehingga membutuhkan metode pemisahan kompleks dan spesifik.

Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi BIM, Yogi Wibisono Budhi, menyampaikan bahwa keterbatasan akses tidak hanya terbatas pada teknologi pemisahan, tetapi juga meluas ke bahan kimia kunci dan infrastruktur rantai pasok. Negara-negara yang telah menguasai teknologi tersebut menjaga kerahasiaan dan membatasi distribusi, termasuk komponen pendukung proses industri.

Pergeseran persaingan global ini didorong oleh lonjakan permintaan LTJ untuk transisi energi bersih, seperti mobil listrik yang naik 6 kali lipat dan pembangkit listrik tenaga angin darat yang melonjak 9 kali lipat dibandingkan pembangkit berbasis gas. Dalam konteks ini, BIM hadir sebagai koordinator strategis untuk menghubungkan hasil riset dari perguruan tinggi dan lembaga seperti BRIN dengan kebutuhan industri nyata.

Upaya percepatan kini difokuskan pada pengembangan skala dari uji coba laboratorium menuju fasilitas percontohan dan produksi komersial. Kolaborasi antara lembaga riset, akademisi, dan pelaku industri menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada impor teknologi. Tujuan jangka panjang adalah agar Indonesia tidak hanya menjadi penyedia bahan baku, tetapi juga menjadi pemain utama dalam rantai pasok global logam tanah jarang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya