Pengembangan Gas Domestik Jadi Kunci Kurangi Impor LPG
BP BUMN dan Danantara dorong Pertamina tingkatkan pasokan gas dalam negeri demi tekan ketergantungan impor, khususnya LPG, melalui pengembangan infrastruktur dan skema pasokan berkelanjutan.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 11 September 2026, 15.37 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 6x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pertamina diimbau mempercepat penguatan pasokan gas lokal sebagai respons terhadap tekanan ketergantungan energi impor. Langkah ini disampaikan dalam pertemuan strategis di Jakarta, yang menyoroti pentingnya memperkuat infrastruktur energi dalam negeri untuk menjamin ketahanan energi nasional dalam jangka panjang. Fokus utama terletak pada ekspansi penggunaan gas alam cair (LNG), jaringan gas rumah tangga (jargas), serta sistem kompresi gas (CNG) sebagai alternatif energi berkelanjutan.
Proyeksi menunjukkan bahwa pada tahun 2029, pangsa LNG dalam total pasokan energi nasional diperkirakan melampaui 50 persen, menandai transisi signifikan dari ketergantungan terhadap energi impor. Hal ini didorong oleh pertumbuhan kebutuhan energi yang terus meningkat, terutama di sektor rumah tangga dan industri. Salah satu inisiatif kunci adalah pembangunan mother station besar yang mampu menyuplai LNG ke hingga 12.000 rumah tangga secara langsung, memperluas akses energi bersih di berbagai wilayah.
Kepala BP BUMN dan COO Danantara, Dony Oskaria, menyambut positif langkah strategis Pertamina. Ia menekankan bahwa kombinasi pengembangan jargas dan CNG memiliki potensi besar dalam mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor. Menurutnya, jika 50 persen kebutuhan gas bisa dipenuhi dari sumber domestik, maka dampak terhadap neraca perdagangan dan ketergantungan energi luar negeri akan terasa signifikan.
Ia menegaskan bahwa progres yang telah dicapai bukan sekadar pencapaian teknis, tetapi merupakan bagian dari transformasi sistem energi nasional yang lebih mandiri. Dengan memperkuat basis pasokan dalam negeri, Indonesia tidak hanya memperluas akses energi bagi masyarakat, tetapi juga memperkuat kedaulatan energi dan menekan beban impor yang berdampak langsung terhadap defisit perdagangan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Premi Asuransi Mobil Listrik Lebih Tinggi, Ini Alasannya
Biaya perbaikan dan suku cadang yang mahal menjadi penyebab premi asuransi mobil listrik lebih tinggi dibanding kendaraan konvensional, sesuai penjelasan dari perusahaan asuransi di tengah penyesuaian tarif.
11 September 2026

Beli iPhone 18 Duo di Luar Negeri? Siapkan Rp66,7 Juta untuk Pajak
Konsumen yang membeli iPhone 18 Duo 2 TB dari AS harus siap membayar bea masuk dan PPN hingga Rp10,5 juta saat masuk ke Indonesia.
11 September 2026

Rupiah Melemah ke Rp17.570 per Dolar AS
Rupiah dibuka melemah 0,23% ke level Rp17.570/US$ pada awal perdagangan Jumat, dipengaruhi penguatan dolar global dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
11 September 2026

Laba TINS Melonjak 805% di Semester I 2026
PT Timah (Persero) Tbk. mencatat laba bersih Rp2,71 triliun pada semester pertama 2026, naik 805% dibanding periode sama tahun sebelumnya, didorong kenaikan harga dan volume penjualan logam timah.
11 September 2026
Berita Lainnya

Cek Tagihan dan Tarif Listrik PLN via HP, Ini Rincian 2026
Jumat, 11 September 2026, 19.46 WITA

Google Maps Dorong Kolaborasi Lokasi Real-Time Tanpa Batas
Jumat, 11 September 2026, 19.39 WITA

Indonesia Siapkan Tim Negosiator Unggul untuk Dukung Pertumbuhan Ekonomi 2029
Jumat, 11 September 2026, 19.39 WITA

Indonesia dan Rusia Perkuat Hilirisasi Bauksit di Kalimantan
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

Operator Kapal Masih Enggan Angkut Mobil Listrik
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

WEY G9 Hi4 Resmi Hadir, Ancam Dominasi Alphard
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

Kapolri Ajak Pengusaha Laporkan Premanisme di Kawasan Industri
Jumat, 11 September 2026, 19.37 WITA

GWM Perluas Jaringan Diler ke Kota-Kota Strategis
Jumat, 11 September 2026, 19.37 WITA


