Jumat, 11 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Investor Asia Pindahkan Aset ke Singapura dan Malaysia

Meningkatnya ketegangan global mendorong konglomerat Asia, terutama dari China dan Timur Tengah, memindahkan kekayaan ke Singapura dan Malaysia sebagai tempat aman dan strategis.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 11 September 2026, 15.31 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 5x dibuka
Investor Asia Pindahkan Aset ke Singapura dan Malaysia📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kenaikan volume aliran modal dan aset fisik dari wilayah konflik menuju Singapura mencatat tren tak terduga dalam beberapa bulan terakhir. Data menunjukkan arus dana dan emas fisik dari Dubai ke Singapura mencapai level tertinggi sepanjang sejarah, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap ketidakstabilan regional. Singapura, dengan reputasinya sebagai pusat keuangan global yang stabil, terus menjadi pilihan utama bagi para pemilik kekayaan tinggi yang mencari perlindungan aset.

Kebijakan pajak yang kompetitif, sistem hukum yang kuat, serta keberadaan infrastruktur keuangan yang matang menjadi daya tarik utama. Menurut eksekutif senior dari Malayan Bank Bhd di Singapura, pergeseran ini bukan sekadar reaksi sementara, melainkan bentuk adaptasi jangka panjang terhadap dinamika geopolitik yang kian kompleks. “Ketika ketegangan meningkat di Timur Tengah, Singapura kembali menjadi tujuan utama, bukan hanya sebagai pusat finansial, tetapi sebagai safe haven nyata,” ujarnya.

Di sisi lain, Malaysia semakin diminati oleh investor China sebagai alternatif strategis. Dengan valuasi properti yang lebih terjangkau dibandingkan Singapura, kota-kota seperti Kuala Lumpur, Melaka, dan Penang menjadi target utama pembelian aset pribadi maupun komersial. Banyak keluarga kaya dari Tiongkok kini memilih Malaysia sebagai basis tinggal dan ekspansi bisnis, menikmati kualitas hidup tinggi dengan biaya operasional yang lebih rendah.

Peningkatan aktivitas investasi ini tidak terlepas dari kecenderungan global untuk mendiversifikasi portofolio ke aset nyata. Emas, sebagai bentuk perlindungan terhadap volatilitas pasar, tetap menjadi pilihan utama. Meski harga emas sedikit melandai dari puncaknya di awal tahun, level saat ini tetap kuat di sekitar US$4.400 per troy ounce. Proyeksi dari Goldman Sachs memperkirakan harga bisa menembus US$4.900 pada akhir tahun, didorong oleh permintaan kuat dari bank sentral dan investor institusional.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa keputusan investasi kini didorong oleh faktor keamanan, stabilitas, dan nilai jangka panjang, bukan sekadar pertumbuhan pendapatan. Singapura dan Malaysia berhasil memposisikan diri sebagai destinasi pilihan bagi para pemilik kekayaan global yang mencari keseimbangan antara pertumbuhan, perlindungan, dan kenyamanan hidup.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya