Investor Asia Pindahkan Aset ke Singapura dan Malaysia
Meningkatnya ketegangan global mendorong konglomerat Asia, terutama dari China dan Timur Tengah, memindahkan kekayaan ke Singapura dan Malaysia sebagai tempat aman dan strategis.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 11 September 2026, 15.31 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 5x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Kenaikan volume aliran modal dan aset fisik dari wilayah konflik menuju Singapura mencatat tren tak terduga dalam beberapa bulan terakhir. Data menunjukkan arus dana dan emas fisik dari Dubai ke Singapura mencapai level tertinggi sepanjang sejarah, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap ketidakstabilan regional. Singapura, dengan reputasinya sebagai pusat keuangan global yang stabil, terus menjadi pilihan utama bagi para pemilik kekayaan tinggi yang mencari perlindungan aset.
Kebijakan pajak yang kompetitif, sistem hukum yang kuat, serta keberadaan infrastruktur keuangan yang matang menjadi daya tarik utama. Menurut eksekutif senior dari Malayan Bank Bhd di Singapura, pergeseran ini bukan sekadar reaksi sementara, melainkan bentuk adaptasi jangka panjang terhadap dinamika geopolitik yang kian kompleks. “Ketika ketegangan meningkat di Timur Tengah, Singapura kembali menjadi tujuan utama, bukan hanya sebagai pusat finansial, tetapi sebagai safe haven nyata,” ujarnya.
Di sisi lain, Malaysia semakin diminati oleh investor China sebagai alternatif strategis. Dengan valuasi properti yang lebih terjangkau dibandingkan Singapura, kota-kota seperti Kuala Lumpur, Melaka, dan Penang menjadi target utama pembelian aset pribadi maupun komersial. Banyak keluarga kaya dari Tiongkok kini memilih Malaysia sebagai basis tinggal dan ekspansi bisnis, menikmati kualitas hidup tinggi dengan biaya operasional yang lebih rendah.
Peningkatan aktivitas investasi ini tidak terlepas dari kecenderungan global untuk mendiversifikasi portofolio ke aset nyata. Emas, sebagai bentuk perlindungan terhadap volatilitas pasar, tetap menjadi pilihan utama. Meski harga emas sedikit melandai dari puncaknya di awal tahun, level saat ini tetap kuat di sekitar US$4.400 per troy ounce. Proyeksi dari Goldman Sachs memperkirakan harga bisa menembus US$4.900 pada akhir tahun, didorong oleh permintaan kuat dari bank sentral dan investor institusional.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa keputusan investasi kini didorong oleh faktor keamanan, stabilitas, dan nilai jangka panjang, bukan sekadar pertumbuhan pendapatan. Singapura dan Malaysia berhasil memposisikan diri sebagai destinasi pilihan bagi para pemilik kekayaan global yang mencari keseimbangan antara pertumbuhan, perlindungan, dan kenyamanan hidup.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Premi Asuransi Mobil Listrik Lebih Tinggi, Ini Alasannya
Biaya perbaikan dan suku cadang yang mahal menjadi penyebab premi asuransi mobil listrik lebih tinggi dibanding kendaraan konvensional, sesuai penjelasan dari perusahaan asuransi di tengah penyesuaian tarif.
11 September 2026

Beli iPhone 18 Duo di Luar Negeri? Siapkan Rp66,7 Juta untuk Pajak
Konsumen yang membeli iPhone 18 Duo 2 TB dari AS harus siap membayar bea masuk dan PPN hingga Rp10,5 juta saat masuk ke Indonesia.
11 September 2026

Rupiah Melemah ke Rp17.570 per Dolar AS
Rupiah dibuka melemah 0,23% ke level Rp17.570/US$ pada awal perdagangan Jumat, dipengaruhi penguatan dolar global dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
11 September 2026

Laba TINS Melonjak 805% di Semester I 2026
PT Timah (Persero) Tbk. mencatat laba bersih Rp2,71 triliun pada semester pertama 2026, naik 805% dibanding periode sama tahun sebelumnya, didorong kenaikan harga dan volume penjualan logam timah.
11 September 2026
Berita Lainnya

Cek Tagihan dan Tarif Listrik PLN via HP, Ini Rincian 2026
Jumat, 11 September 2026, 19.46 WITA

Google Maps Dorong Kolaborasi Lokasi Real-Time Tanpa Batas
Jumat, 11 September 2026, 19.39 WITA

Indonesia Siapkan Tim Negosiator Unggul untuk Dukung Pertumbuhan Ekonomi 2029
Jumat, 11 September 2026, 19.39 WITA

Indonesia dan Rusia Perkuat Hilirisasi Bauksit di Kalimantan
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

Operator Kapal Masih Enggan Angkut Mobil Listrik
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

WEY G9 Hi4 Resmi Hadir, Ancam Dominasi Alphard
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

Kapolri Ajak Pengusaha Laporkan Premanisme di Kawasan Industri
Jumat, 11 September 2026, 19.37 WITA

GWM Perluas Jaringan Diler ke Kota-Kota Strategis
Jumat, 11 September 2026, 19.37 WITA


